Selasa, 28 Februari 2012

Soal Kitab Injil

Ditemukan, Injil Yang Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad

Kairo, KP – Sejatinya empat kitab suci yang diturunkan Allah merupakan pedoman dan petunjuk akhlakul karimah. Keempat kitab itu, Alqur’an, Injil, Taurat dan Zabur mempunyai kesamaan yakni perintah Allah untuk makhluk di Dunia.
Namun, selain kitab Alqur’an beberapa isi kitab lainnya dirubah oleh tangan manusia. Belakangan sebuah Injil berusia 1.500 tahun yang menceritakan tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW ditemukan.
Dimana, umat Islam percaya berita kedatangan Nabi Muhammad di Injil yang ditemukan di Turki itu dengan nama Ahmad. Kabarnya, Gereja Vatikan tekah meminta secara resmi kepada pemerintah Turki untuk melihat Injil yang tersimpan selama 12 tahun itu.
Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugul Gunay mengatakan, sejalan dengan keyakinan Islam, Injil ini memperlakukan Nabi Isa yang disebut Yesus sebagai manusia bukan Tuhan. Fakta ini jelas menolak ide tritunggal dan penyalipan Yesus.
``Disebutkan Injil ini, Yesus berkata kepada salah seorang pendeta, bagaimana kami memanggil mesias (sang penyelamat)? Muhammad adalah nama yang diberkati,’’ kata dia membaca salah satu ayat dalam Injil tersebut.
Gunay menuturkan dalam Injil ini juga disebutkan Yesus sendiri menolak mejadi mesias. Yesus mengatakan bahwa mesias itu adalah keturunan Ismail yakni orang Arab. Sebelumnya umat Islam sendiri mengklaim pesan kedatangan Muhammad SAW juga terdapat dalam Injil Barnabas, Markus, Matius, Luka dan Yohannas.
Gunay mengatakan pihak Vatikan telah meminta salinan Injl tersebut saat Injil itu hendak diselundupkan ke luar Turki tahun 2000. Kini Injil itu berada dalam berkas pengadilan Ankara.(mns)

Selasa, 14 Februari 2012

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

Ringan sama dijinjing, Beras sama dispekul

HARGA beras mahal. Naik di kisaran Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram. Rakyat berebut di truk-truk Bulog untuk mendapatkan beras dengan harga murah. Tapi itu truk gantung. Artinya tidak mudah. Karena risikonya, bisa pingsan lantaran berdesakan, bisa pula terluka lantaran terinjak-injak. Serupa dengan potret buram negara dunia ketiga. Jelas ini pemandangan yang mengundang rasa beras kasihan. Hihihi.
Saat ini harga-harga memang cenderung melonjak. Kalopun ada yang anjlok, justru bukan harga melainkan kereta api dan pesawat. Beras memang selalu turun, tapi bukan harganya melainkan diturunkan dari truk oleh para kuli angkut. He-eh!
Sebuah ironisme memang?
Tentu saja. Betapa tidak, sebagai negara agraris terserah mau graris lurus atawa melengkung mestinya stok beras melimpah. Tidak ada berita gagal panen di media massa. Kalopun ada berita kegagalan, kebanyakan adalah gagal KB, lantaran tiba-tiba saja muncul bayi lagi, bayi lagi" termasuk Bayi Prima yang dulu jadi aktor laga kesukaan banyak penonton film. Nah, di tengah-tengah ketiadaan kabar gagal panen, justru beras langka.
Memang sempat dikabarkan stok beras pada bulan Januari 2007 defisit hingga 1,5 juta ton. Dan pada bulan Februari 2007 kabarnya masih defisit hingga hingga 377 ton, kata Defisit Ratnasari (maksudnya, Desy). Hehehe! Kalo memang benar faktanya begitu, tentu berita kelaparan pasti tersebar dan tersiar. Selama kurun waktu 2 bulan defisit hampir 2 juta ton tentu bukan persoalan yang ringan. Ini masalah ''serius'', bukannya ''peterpan''?! Tapi nyatanya, tidak ada kelaparan.
Lantas ke mana perginya beras?
Mungkinkah Edi Tansil kembali ke mari dan menggondol beras?
Tentu saja tidak. Karena kalo Edi Tansil melakukan itu berarti legenda Tansil mencuri Triliun eh maksudnya Kancil mencuri Timun sudah tidak berlaku lagi. Ihiik!
Kata orang, harga beras mahal lantaran efek dari banjir yang melanda ibu kota beberapa waktu lalu. Banjir itu sendiri terjadi akibat curah hujan yang sangat beras, eh" deras, ding! Sehingga pintu air di atas normal. Akibatnya air meluap sampai jauh hingga ke daratan.
Bisa jadi, hal ini memang benar. Tapi kayaknya itu bukan variabel utama. Kita justru patut curiga terhadap tangan-tangan jahil yang sengaja menyimpan beras dan mengucurkannya sedikit demi sedikit. Beras diparkir di gudang, meski parkir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Hahaha"! Akibatnya beras pun BERedar terbatAS. Spekulan inilah yang mestinya dicermati, sesuai pepatah yang saya ungkapkan di judul atas ini, yakni ringan sama dijinjing, beras sama dispekul"an.
Lalu apa yang dilakukan Bulog?
Operasi pasar alias OP. Lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap distribusi beras ini segera bertindak. Mereka menjamah pasar-pasar dan menghadapi antrean panjang. Orang berjejalan dan terpaksa harus berjejalan pelan-pelan karena banyak anak-anak saling berimpitan dan berdesakan. Bukan hanya di kota-kota tapi juga di desak-desak (maksudnya di desa-desa"hehehe"). Mereka berebut mendapat Beras Murah alias Beras MUtu RendAH. Sehingga Operasi Pasar, lebih cenderung tidak tepat sasaran.
Tapi apa yang terjadi? Tetap saja banyak ìorang asing yang berkeliaran. Mereka bukan warga sekitar tempat OP digelar. Berkarung-karung beras berhasil mereka bawa. Warga sekitar hanya bisa gigit jari, tentunya jari pagi hingga sore. Hehehe! Jumlah beras yang digelontorkan oleh Bulog akhirnya tak sebanding dengan jumlah warga yang membutuhkan. Akibatnya, OP bukan lagi bermakna sebagai Operasi Pasar melainkan Oentoengkan Pedagang. Karena yang membeli beras-beras OP kebanyakan juga pedagang yang akan menjual kembali dengan harga tinggi.
Beras mahal berarti petani beruntung?
Ternyata tidak. Petani tetap saja buntung, bukannya untung. Sebab harga gabah di tingkat petani justru merosot. Petani yang tiap hari menggarap sawah untuk ditanami padi, al-hasil bisa jadi Padi Pejuangan. He-eh! Atau bisa-bisa justru tidak mampu membeli beras. Lalu muncul kebijakan mengimpor beras. Ratusan ribu ton beras harus diimpor agar kebutuhan rakyat bisa terpenuhi.
Dan kalo sudah begitu, pengimpor beras yang bakal meraup keuntungan.
Kalo ini yang terjadi, beras memang lantas juga bermakna jadi BEbannya RAkyat Semua. Lantaran Bulog juga bukan lagi Badan Urusan LOGistik tapi Beras Urusan Lo doanG!
Nah, kalo sudah begini, mendingan sekalian saja kita impor Sandra Bulog untuk mengatasi masalah di Bulog. Hahaha"!(41)
- Ucup Kelik Pelipur Lara

 

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

Let's Me Go! Letupan Soal Menyak Goreng

SEJAK harga BBM alias Bahan Bakar Melambung, ternyata imbasnya cukup meresahkan masyarakat. Selain itu ternyata juga mempengaruhi harga barang lain yang notabene mengandung minyak. Mulai dari minyak wangi, minyak rambut, dan akhirnya diikuti pula oleh minyak goreng. Tapi yang hingga kini tak ikut terpengaruh hanyalah Minyak Jinggo. Ho-oh, tho!
Yang namanya minyak goreng adalah salah satu kebutuhan pokok yang tergabung dalam grup Sembako (Sembilan Bahan Pokok), dan bukannya Semua Bahan Kosong. He-eh! Di balik itu semua banyak beredar kabar tentang rakyat yang kelaparan, gizi buruk dan sebagainya. Padahal ada slogan yang mengatakan bahwa negeri ini gemah ripah loh jinawi, yang artinya kurang lebih tanah yang subur dan makmur, serta sumber daya alam yang melimpah ruah. Seiring dengan itu, ironisnya pemerintah justru sedang getol-getolnya menggalakkan programnya yang berbunyi "kencangkan ikat pinggang!" Nah, lo!
Harga Stabil
Lantas apa sebaiknya yang perlu dilakukan oleh pemerintah? Pemerintah hendaknya bisa membantu masyarakat melalui Memperingan atawa Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Hehehe! Hal ini terbukti dengan dibentuknya tim untuk membahas rencana penstabilan harga minyak goreng. Konon kabarnya pemerintah juga terus menggelar OP ( operasi pasar), yang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok, khususnya minyak goreng. Namun yang terjadi di pasaran harga minyak justru makin melonjak-lonjak kegirangan. Tuh, kan! Yang pasti masyarakat menilai upaya pemerintah untuk menstabilkan harga minyak goreng dinilai gatot alias gagal total. Padahal kalau kita cermati, harga minyak goreng sebenarnya stabil atau standar bilangan tinggi. Hihihi!
Di tengah melangitnya harga minyak goreng tersebut malah terdengar kabar, pemerintah tidak akan memberikan subsidi untuk menurunkan harga minyak goreng kembali normal seperti semula. Namun konon kabarnya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ternyata harga minyak goreng justru menurun. Maksudnya, menurun keuntungan para pedagangnya. Wayooo!
Solusi Cerdas
Kini semua tinggal harapan masyarakat yang hendaknya bisa menyikapi segala permasalahan dengan positif dan tentunya tetap possesive. Sebagai contoh, ketika harga beras melejit maka masyarakat tak perlu menjerit, mereka harus mencari alternatif lain seperti mengonsumsi ubi, tiwul dan sebagainya sebagai pengganti makanan pokok. Kecuali Thiwul dan Mbak Wul. Hehehe!
Nah, gara-gara harga minyak goreng yang melambung, masyarakat tak perlu bingung. Sebaiknya mereka berpikir positif dan mencari solusi cerdas untuk mengonsumsi makanan tanpa menggunakan minyak goreng.
Sebagai contoh masyarakat bisa mengonsumsi makanan yang direbus. Artinya tanpa memakai minyak goreng sekalipun. Hikmahnya selain bermartabat, ternyata juga bermanfaat untuk hidup sehat, tentunya dengan cara mengurangi makanan yang mengandung minyak, yaaa itung-itung menekan kadar kolesterol dalam tubuh kita. Yang terpenting, meski harga minyak membumbung tinggi, jangan sekali-kali kita mencoba mengonsumsi hasil dari komoditi mikas atau minyak goreng bekas, hehehe maksudnya jelantah.
Soalnya kalau kita terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung jelantah, tentu bisa fatal akibatnya. Yang pasti minyak jelantah bisa memicu terjadinya serangan penyakit kanker. Meski penyebab utamanya adalah Kanker juga alias Kantong Kering. Hahaha! Letís Me Go! Letupan Soal harga Menyak Goreng, hendaknya biarkan berlalu. Namun solusi cerdas seperti ini hendaknya jangan membuat pemerintah bersikap santai. Kecuali santai yang satu ini, yakni santai jumpa lagi! Hihihi! (11)
- Ucup Kelik Pelipur Lara

 

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

Hidup, Lingkungan Hidup!

Dilarang keras merokok, ingat kebakaran! Dilarang keras meludah, ingat kebanjiran! He-he-he! LAGI, peringatan nyleneh itu hendaknya dijadikan slogan setiap peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia seperti pada 6 Juni 2007. Kalimat itu memang sangat sederhana, tetapi menjadi mulia jika benar-benar maksud dan tujuannya dipahami. Jadi, peringatan itu tak seperti Hari Lingkungan Hidup pada tahun-tahun sebelumnya, yang katanya pemerintah selalu menganugerahkan penghargaan berupa Kalpataru dan Adipura kepada "pahlawan lingkungan". Diharapkan pula selain penghargaan, juga peringatan bagi masyarakat yang dapat memacu semangat terus menjaga dan melestarikan lingkup (baca: lingkungan hidup) Indonesia agar tercipta keseimbangan alam.
Indonesia berada pada posisi strategis, diantara dua benua dan dua samudra. Posisi itu mengakibatkan Indonesia memiliki iklim tropis yang terbagi menjadi dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Hal itu seperti dilontarkan pelantun lagu dangdut gaek kita, yakni Musim Alatas. Weleh!
Indonesia juga dikenal dengan istilah Zamrud Khatulistiwa. Artinya, suatu wilayah dengan hamparan mutiara nan hijau. Begitu hijau sehingga membuat grup musik legendaris Koes Plus menelurkan beberapa volume lagu berjudul "Nusantara". Pokoknya, Indonesia memiliki alam yang indah. Juga memiliki Alam Budi Kusuma, salah seorang mantan pebulutangkis kita. Ha-ha-ha!
Hutanku, Bencanaku
Dewasa ini kita sering menyaksikan saudara yang tertimpa musibah banjir bandang akibat meluapnya Sungai Mahakam di Kalimantan, Sungai Musi di Sumatera, dan lain sebagainya. Suatu peristiwa yang menjadi bukti bahwa ternyata hutan kita sudah tidak bersahabat lagi.
Tak lain penebangan atau pembalakan hutan secara liarlah yang jadi penyebab. Penanganan kasus pembalakan liar sebaiknya dipercayakan kepada pakar, siapa lagi kalau bukan Michael Balack. Ha-ha-ha!
Konon akan ada penanaman pohon kembali (reboisasi) di areal hutan yang telah ditebang. Itu sebagai salah satu pemasukan ke kas dan devisa negara. Namun ternyata pohon yang seharusnya ditanam kembali tidak kunjung tumbuh alias eboni (EeeÖ, botak nih yee!). Dan, kenyataannya memang tidak ditanam. Padahal, pemerintah telah mengeluarkan dana cukup besar untuk reboisasi. Nah lo?!
Makin malang nasib hutan Indonesia. Apalagi ditambah perburuan liar yang merusak suaka alam dan suaka margasatwa. Maka tak heran jika hutan Indonesia kini tak ramah lagi. Namun justru marah lagi. Hi-hi-hiÖ, syereeemmm!
Terbukti ketika musim kemarau tiba, besar kemungkinan terjadi kebakaran hutan. Jika musim hujan datang berpotensi terjadi kebanjiran.
Bukan cuma itu. Yang pasti keberadaan hutan sangat berpengaruh terhadap iklim di suatu negara. Jika kelestarian hutan tidak terjaga, so pasti lambat laun negeri ini bisa tenggelam. Percaya gak percaya?!
Kotaku, Nasibku
Tahun 2007, Jakarta menempati peringkat ketiga dunia untuk lingkungan hidup. Namun, sayang seribu sayang, Jakarta merupakan peringkat ketiga sebagai kota dengan udara paling kotor sedunia. Walah!
Polusi kendaraan bermotor tak memenuhi standar uji emisi. Belum lagi limbah pabrik makin hari kian tidak terkendali. Ironisnya, masih ditambah tumpukan sampah yang makin hari kian menjulang tinggi. Apalagi sampah masyarakat, mereka tak usah ditumpuk-tumpuk, sudah menumpuk sendiri. Hi-hi-hi!
Wajar jika kemarin Jakarta terapung, meski Jakarta juga punya monorel. He-he-he!
Lingkungan hidup apalagi yang kita banggakan? Eksplorasi besar-besaran menjadi sah, tanpa memperhitungkan kelestarian alam. Jadi jelaslah, ternyata kerusakan alam diakibatkan oleh ulah manusia.
Terbukti, semburan lumpur panas di Sidoarjo. Sebuah kota kecil yang seharusnya bisa kayak Kuala Lumpur itu pun harus berganti nama menjadi Kualat Lumpur. He-eh! (53)
* Ucup "Kelik" Pelipur Lara

 

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

Gairah Istimewa Yogyakarta

ADALAH Yogyakarta, sebuah daerah yang akrab disapa sebagai Kota Pendidikan dan terkenal pula dengan julukan Kota Gudeg. Namun lebih dari itu semua, selain Yogyakarta dikenal dengan julukan Yogyakarta Berhati Nyaman, ternyata Yogyakarta juga dikenal sebagai Daerah Istimewa dengan slogannya, Yogyakarta Berhati Nyam-nyam. Tentu karena terkenal banyak makanannya.
Sebagai daerah yang istimewa, so pasti Yogyakarta juga dipimpin oleh sosok pimpinan yang istimewa pula. Siapa lagi kalo bukan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Beliaulah yang merangkul seluruh masyarakat Yogyakarta. Bukan hanya secara politis, namun juga historis, kultural dan religi. Yogyakarta adalah sebuah kota yang multi etnis. Ada Jawa (Jaga wibawa), Betawi (Betah Tinggal di Wilayahnya), Batak (Banyak taktik), Padang (Pandai dagang), Sunda (Sukanya nikmati daun muda, hehehe, maksudnya lalapan), dan masih banyak lagi.
Hihihi! Tentu bukan hal yang mudah untuk mewujudkan satu rasa keharmonisan dan kebersamaan ditengah gejolak politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang semakin kritis. Apalagi pantai parang kritis. He-eh!
Sebuah Kejutan
Sabtu (7/4) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2008-2013. Masyarakat Yogyakarta tentu terkejut dengan pernyataan dari orang nomor satu di Yogyakarta itu. Ada yang menanggapinya dengan terharu, ada yang sedih, namun ada pula yang memberikan dukungan. Malahan ada pula yang berlagak kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Nah, lo!
Saat itu Beliau berkata, ''Dengan tulus, saya menyatakan tidak bersedia lagi menjabat sebagai gubernur kepala daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah masa jabatan 2003-2008 nanti.''
Lalu siapa yang pantas untuk menggantikan posisi Beliau? Hingga kini belum ada seorang pun yang lantang mencalonkan diri. Para bupati di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bersedia duduk di kursi Gubernur dengan segala argumen dan pandangan masing-masing.
Apa fenomena dibalik pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono X? Apakah Beliau hendak go nasional sebagai politikus? Ataukah ingin bergabung dengan mereka yang sibuk dengan kekuasaan yang lebih tinggi? Dan, setumpuk pertanyaan lain yang akhirnya menjadi polemik tak karuan.
Sri Sultan Hamengku Buwono X ternyata mempunyai sebuah komitmen dengan sang ayahanda ketika akan dinobatkan sebagai raja di Kraton Yogyakarta. Komitmen itu adalah bahwa Beliau tidak hanya untuk warga masyarakat Yogyakarta tapi juga untuk bangsa Indonesia. Jika ternyata Beliau tidak menjabat lagi, apakah Yogyakarta akan tetap menjadi Daerah Istimewa?
Berbenah Diri
Jika kita cermati seksama, saat ini Yogyakarta tengah berbenah diri. Tragedi gempa bumi pada Mei tahun silam telah meluluhlantakkan Yogyakarta. Disusul bencana alam lainnya yang datang silih berganti menimpa bangsa ini.
Perlahan namun pasti, Yogyakarta kembali bangkit dari kehancuran akibat bencana tersebut. Sebagai contoh pada bidang pariwisata misalnya. Perbaikan demi perbaikan gencar dilakukan pemerintah. Mulai dari wisata alam, wisata kuliner, wisata bahari hingga pada perbaikan wisata peninggalan sejarah alias setahu saya jangan diarah-arahkan. Hehehe!
Dengan semangat kebersamaan yang tinggi dan gairah untuk membangun kembali Yogyakarta, maka tepatlah jika istilah Daerah Istimewa Yogyakarta bisa pula berarti Gairah Istimewa Yogyakarta. Hehehe.
Sambil terus berharap, siapapun gubernur yang akan memimpin Yogyakarta di episode 2008-2013 akan sesuai dengan keinginan masyarakat Yogyakarta. Cakap dan membawa harum Yogyakarta di mata internasional, meski menyandang gelar Daerah Istimewa itu sebetulnya sarat dengan ujian seperti goncangan gempa bumi misalnya.
Terbukti gempa bumi yang dashyat telah terjadi di Daerah Istimewa Nanggroe Aceh Darussalam dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bencana di Aceh diakibatkan oleh tsunami dan bencana di Yogyakarta mengakibatkan histeris. Sehingga sepasang Daerah Istimewa ini pernah terjadi peristiwa tsunami histeris (baca: suami istri), yang harus tegar dengan ujian apapun yang terjadi. (46)
- Ucup ''Kelik'' Pelipur Lara

 

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

TKW, Tenaga Kerja Waspada

ADEGAN uji nyali tanpa rekayasa yang dilakukan oleh Ceriyati, seorang Tenaga Kerja Wanita dari Indonesia di Negeri Jiran yang nekat kabur dari lantai 15 di sebuah apartemen, ternyata tak kalah hebohnya dibandingkan dengan akting Widhi AB Three dalam film horor yang berjudul lantai 13. Hehehe!
Bayangkan akting Ceriyati, wanita asal Brebes ini terbukti ternyata mampu "Brebes Mili" alias meneteskan air matanya. Lantaran tidak tahan dengan siksaan dan perlakuan majikannya. Luar biasa, meski mereka biasa di luar kebiasaan!
Sekadar dimengerti dari apa yang belum pernah dimengerti, bahwa ini adalah sebuah kasus pelanggaran HAM (baca: Hak Asasi Mbak Ceriyati). Hihihi! Konon kabarnya masih banyak cerita Ceriyati yang lain dengan nasib serupa tapi tak sama. Namun sayangnya, tak satupun dari mereka yang dalam tanda kutip adalah merupakan "Pahlawan Devisa Negara" tuntas dari kasusnya. Bahkan beberapa dari mereka mayoritas luput dari liputan media. Mereka tak lagi diperlakukan secara bijaksana, atau dengan istilah lain biasanya di sana kurang bijak. Ho-oh, tho!
Pihak-pihak yang terkait dengan Tenaga Kerja Indonesia sudah sepantasnya bertindak. Hendaknya mereka mampu memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang salah?
Walaupun sebenarnya sudah terlambat, namun tak ada istilah kata terlambat, maksudnya apapun kasusnya hendaknya pemerintah dalam hal ini Men Tekek (Menteri Tenaga Kerja Kita) segera mengambil tindakan penyelesaian.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin akan muncul kasus secara episodik dikemudian hari. Wah, sekarang kritis kayak pasien di Rumah Sakit saja. Hehehe!
Kabar tentang disepakatinya MoU alias Memorandum of Understanding bukannya Memorandum of Uneg-uneg, Walah! Tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan kaum migran di Negeri Jiran. Terbukti, makin banyak kasus yang bisa membuat kita semua jadi migran alias pusing separoh. Nah, loh!
Nasib telah menjadi bubur.
Banyak hal yang dilalui oleh TKI sebelum mereka memulai darmanya, meski juga harus melalui dramanya. Pertama, mereka wajib mendaftarkan diri kepada sebuah badan atau biro, baik milik pemerintah maupun swasta.
Setelah itu mereka wajib mengurus dokumen sebagai syarat administrasi. Tentunya dengan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Hingga pada proses pelatihan dan pemberangkatan ke negeri tujuan.
Tragis memang, banyak para Migran ini ketika masih di Tanah Air sudah merasakan tindak pemerasan. Wah, pakai pemerasan segala kayak Sapi Perah. Ada saja pihak-pihak yang berdalih dengan hal yang sepertinya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Paspor, misalnya, dokumen pribadi yang semestinya hanya dipegang oleh pemiliknya ini justru malah ditahan tanpa alasan yang jelas. Ironisnya, paspor atau dokumen tersebut harus ditebus pemiliknya jika akan diambil kembali.
Kaum migran, mereka bekerja nun jauh dari keluarga yang mereka cintai. Mereka di sana banting tulang, bahkan sampai-sampai dibanting majikan segala. Idiiih! Keberadaan mereka turut memberikan tambahan devisa negara.
Namun kesejahteraan mereka turut memberikan tambahan dukacita negara. Sampai kapan mereka diperlakukan dengan tidak semestinya? Konon kabarnya, upah mereka pun tidak sebanding dengan jerih payahnya.
Usut punya usut, ternyata memang belum ada sanksi kepada para majikan yang mbalelo terhadap kaum migran. Namun apa daya, nasib telah menjadi bubur. Hehehe!
Kasus demi kasus mengiringi perjalanan hidup kaum migran. Mulai dari kasus pemerasan, kasus birokrasi, kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan hingga kasus penganiayaan dan tindak kekerasan.
Maka tak salah jika TKW atau Tenaga Kerja Wanita bisa berubah maknanya menjadi Tenaga Kerja Waspada. Atau kalau mau lebih aman kita bisa kirim TKW alias Tenaga Kerja Waria saja.
Huahaha! Masak jeruk minum jeruk. Ingat! Kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tetapi karena adanya kesempatan. Waspadalah... waspadalah!. Dan ingat, kejantanan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tetapi karena adanya kesempitan. Waspadalah... waspadalah!
- Ucup "Kelik" Pelipur Lara

 

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

 DKI, Daerah Kebanjiran Ibukota

Siti KDI Ok! Siti Nurhaliza Yes! Siti Fadhilah Supari (?) 
BANJIR Jakarta telah surut. Kita semua tentu surut bersuka cita. Meski korban telah jatuh, puluhan nyawa telah melayang, setidaknya problem rutin tiap tahun itu untuk sementara telah usai. Karena banjir yang telah menyebabkan Jakarta seperti waterworld itu hanya berusai beberapa hari (maksudnya berusia hihihi).
Coba kalo berusai bertahun-tahun, wacana yang dilontarkan DPD untuk memindah Ibu Kota dari Jakarta tentu akan direalisasikan. Aliran listrik yang berhari-hari padam dari PLN alias Pasti Lama Nyalanya, telah kembali menyala dan normal. Geliat kehidupan Ibu Kota pun kembali berdenyut.
Sudah selesaikah persoalannya? Ternyata belum. Masih ada PR alias Pekerjaan Rumah atawa Pekerjaan Rutin yang menyusul. Pascabanjir, datang penyakit "baru".
Penyakit yang kemudian kita kenal dengan sebutan leptospirosis seperti tagline-nya Tukul Arwana: "kembali ke leptos" hehehe dan bukan kayak pantun Jawa (baca: parikan) tagline kecemplung kalen, tinimbang golek aluwung balen ñ itu konon disebabkan oleh kencing tikus, anjing, dan kucing yang ikut hanyut bersama air bah.
Namun ada kencing yang tidak menyebabkan penyakit, yakni kencing baju. Hehehe! Yang aneh, penyakit ini muncul bersamaan dengan berakhirnya banjir. Apakah tikus, anjing, dan kucing hanya kencing di saat banjir ya? Mungkin biar gak kucinggalan jaman? He-eh!
Penyakit yang satu ini pun tidak bisa dianggap remeh temeh alias main-main lantaran sudah pula menimbulkan korban. Para pengungsi korban banjir beberapa di antaranya sudah dideteksi positif menderita penyakit ini. Dan bukan tidak mungkin, kata Mungkin Alatas, penyakit ini juga bisa menyebar.
Padahal kalo kita bicara tentang penyakit maka sesuai maknanya PENderitanya YA KITa ini. Bukan hanya leptospirosis yang kini sedang menjadi tren di Ibu Kota, melainkan juga penyakit-penyakit yang lain, seperti dalam peribahasa yang berbunyi, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Artinya, lain dulu lain sekarang, dibuka dulu baru diserang. Ya, nggak?!
Sebelumnya, tentu kita sudah sangat hafal dengan istilah flu burung atau Avian Influenza. Penyakit ini konon kabarnya pertama kali muncul di Ibu Kota Jawa Tengah, tepatnya Semarang. Kenapa? Karena plat nomornya H 5 N1.
Penyakit ini telah berjangkit sejak beberapa tahun silam, tepatnya pada saat Harkitnas atawa Hari Kejangkitan Nasional. Penyebabnya unggas. Dan upaya pemberantasan pun telah dilakukan, termasuk pemusnahan unggas. Bahkan di Jakarta sudah diadakan sertifikasi unggas, termasuk ayam, kecuali ayam goreng to school dan ayam semesta. Untuk mengatasi masalah flu burung ini, sebaiknya kita serahkan saja ke FBI atau Flu Burung Investigation. Ihiiik!
Sebelumnya lagi, kita sudah mengenal penyakit demam berdarah dengue (DBD) atau yang sering disebut orang hanya dengan sebutan DB. Tapi bukan DB Yusuf dan DB Sahertian, lho!
Penyakit ini pun menyebar merata hampir seantero Nusantara. Dan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegepty ini pun sudah menelan banyak korban jiwa. Kecuali yang anti dengan penyakit DBD adalah Demam Berdarah Dingin. Hihihi!
Penyakit lain yang sesungguhnya sudah laten namun jarang diekspos adalah malaria. Penyakit ini endeminya di Papua. Wah, malah kayak lagunya Elpamas, Papua sudahlah. Engkau sudah terlihat lelah yaaa!
Hampir setiap saat masyarakat kita di Papua maupun pendatang yang kemudian bermukim di sana, terjangkit penyakit yang penyebarannya juga lewat media nyamuk ini.
Namun secara nasional yang sempat menjangkit dan diekspos besar-besaran adalah wabah Malaria Eva (ME) yang bersama YZ bikin heboh pentas politik nasional tempo hari.
Penyakit-penyakit itu secara rutin hadir menjemput kita dari tahun ke tahun. Seperti tak pernah capek karena memang yang capek hanya Pak Ogah: Capek dulu dong! ñ mereka menyerang kita terus-menerus. Dan kita pun sepertinya selalu kehabisan tenaga untuk mengatasinya.
Ambil saja contoh DBD (tapi bukan Dewan Bimpinan Daerah lho!). Tahun lalu penyakit ini juga menyerang banyak wilayah di negara kita. Dan tahun ini, korban pun telah banyak berjatuhan. Padahal, biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga penderita cukup besar. Mungkin sesuai namanya DBD yakni Ditanggung Besar Dananya. Tapi tetap saja, penyakit yang satu ini menjangkit. Kalaupun sedikit berhasil diatasi, bisa dipastikan di waktu-waktu mendatang akan muncul lagi.
Contoh lain masalah flu burung. Wabah penyakit ini malah lebih heboh lagi. Karena yang diatasi bukan hanya penderita berupa manusia namun juga unggas. Ini cukup merepotkan. Berbagai dugaan pun mulai bermunculan.
Antara lain menyebutkan, penyebaran virus ini sudah mulai berjangkit dari manusia ke manusia, namun Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari membantahnya dengan tegas.
Penyebaran virus flu burung disebutnya masih sebatas dari unggas ke manusia. Untuk membantah soal itu, Menkes memang tergolong tokoh vokal, tapi bukan vokal yang berarti Volume Keras Asal Lantang lho!.
Kita kemudian mendengar berita " eh derita ding... " bahwa ribuan unggas dimusnahkan dengan cara dibakar. Mungkin maksudnya untuk membasmi akar permasalahannya atau ingin ikut-ikutan terkenal kayak Rally Paris-Bakar maupun penyanyi dangdut Annisa Bakar. Bahkan di Jakarta lebih ekstrem lagi, yakni unggas yang diizinkan bermukim adalah unggas-unggas yang telah disertifikasi. Padahal berapa biaya sertifikasi? Jangan-jangan jauh lebih mahal dari harga unggasnya. Ini bisa terjadi lho!
Kalo serbuan penyakit datang bertubi-tubi dan terus menjalar seperti tubi jalar, tentu saja yang paling sibuk adalah Menteri Kesehatan. Berbagai upaya dilakukannya selaku "wakil" dari Pemerintah.
Namun sepertinya upaya-upaya yang dilakukan itu hanya bersifat temporer atawa sesaat. Padahal peribahasa menyebutkan, malu bertanya sesaat di jalan. Bagaimana tidak kalo pada saatnya kemudian, penyakit itu datang lagi.
Memang, sudah sejak dulu kita tahu bahwa pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Tapi mau bagaimana lagi kalo faktanya unggas merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat kita? Haruskah masyarakat merelakan sumber penghasilannya dan berpindah ke bidang lain hanya agar tidak terjangkit flu burung misalnya? Ini jelas butuh lapangan pekerjaan bukan lapangan bola!
Kalo menengok permasalahan yang tak kunjung usai ini, barangkali istilah Menkes terancam bisa bergeser dari Menteri Kesehatan menjadi Eksperimen Kesehatan. Karena kesannya masyarakat yang menjadi lahan eksperimen. Penyakit yang datang menyerbu dijadikan sarana percobaan upaya penanggulangannya. Masyarakat pun terkesan jadi kelinci percobaan.
Kalo sudah begitu, tiga baris kalimat yang saya tulis di atas bisa jadi bukan sesuatu yang aneh. Maka tak heran jika masyarakat kita lebih memilih Siti KDI dan Siti Nurhaliza lewat polling SMS alias Suara Merdeka Semarang, ketimbang Siti Fadhilah Supari.
Ah, jangan sampai terjadi begitu lah.
Ke Irian beli burung Cendra
wasih.
Cukup sekian dan terima kasih.
Ke Irian lewa t Solo.
Cukup sekian, getu loh!
Ucup "Kelik" Pelipur Lara (45)

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

K D R T, Kekerasan dalam Rumah Tahanan 

 

Ingat! Kejantanan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempitan. Hehehe! Waspadalah, waspadalah! SEKILAS plesetan kata-kata di atas ini adalah merupakan genre pesan singkat yang cukup akrab digendang telinga kita, yang berbunyi: Ingat! Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah, waspadalah! Dan, pesan tersebut sekaligus merupakan tagline yang selalu dilontarkan oleh Bang Napi, di setiap akhir acara siaran berita kriminal yang bertajuk, "Sergap".
Pesan bijak yang dia sampaikan memang singkat namun sarat makna. Adalah yang namanya napi, orang yang setiap hari tinggal di balik jeruji penjara. Mereka tengah menjalani hukuman dari tindak kejahatan yang telah dilakukan. Sedikit banyak, para napi itu sudah semestinya memberi piring, maksudnya "piringatan" kepada kita agar lebih waspada dan hati-hati.
Hihihi! Artinya jangan sampai kita mengikuti jejak seperti mereka. Ingat, yang namanya penyesalan selalu datang belakangan. Ibarat sebuah peribahasa yang gerr bunyi, "Napi telah menjadi bubur". He-eh! Nah, lalu apa gerangan yang baru saja terjadi dengan para napi itu sendiri?
Berawal dari demam lomba dalam rangka memperingati tujuh belasan yang marak digelar diseluruh penjuru negeri. Tak ketinggalan di Lapas Cipinang juga mengadakan pertandingan sepak bola yang masih menjadi olah raga favorit masyarakat Indonesia. Tentunya dengan sisa-sisa semangat nasionalisme, mereka berlaga sekaligus berlagak bak atlit tim nasional yang belum lama ini tampil membanggakan di ajang Piala Asia 2007.
Mereka seolah tak mau kalah dengan tradisi klasik sepak bola kita yang selalu dibumbui dengan adu mulut hingga berbuntut adu jotos. Akibat dari peristiwa itu, citra "hotel prodeo" Cipinang pun cenderung kolep. Padahal pelatihnya bukan Ivan Kolev, lo? Hehehe! Pertandingan seharusnya menjadi sarana untuk mengakrabkan mereka, namun justru malah menelan korban tewas dan beberapa napi yang luka. Bentrokan masal pun tak dapat dielakkan lantaran mereka mayoritas memang masih bertemperamen tinggi. Apalagi konon kabarnya mereka masih menyimpan dendam akibat keributan yang terjadi saat bertanding sepak bola.
Bukan hanya dendam membara yang mereka simpan. Usut punya usut, ternyata mereka juga menyimpan berbagai sajam. Weleh, sajam kok bisa masuk penjara ya? Padahal setahu saya, sajam yang bisa masuk penjara itu cuma Sajam Husein. Hehehe! Ternyata sajam yang dimaksud adalah senjata tajam. Terlepas diakui atau tidak, kebocoran masih saja terjadi, meski telah dilakukan penjagaan dan pengawasan yang super ketat.
Pemerintah dalam hal ini melalui Menkum HAM (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia) akan menindak tegas dan mengusut kasus ini sampai tuntas...tas...tas! Siapapun yang bersalah tetap akan dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan diambil tindakan tegas kepada para pejabat berikut petugas lapas yang terbukti lalai dalam melaksanakan tugasnya.
Ruangan di Lapas Cipinang yang relatif sempit rupanya tak menyurutkan para napi untuk saling adu kekuatan. Mereka justru makin beringas dan brutal. Korban-korban yang berjatuhan cukup memberi bukti bahwa kejantanan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempitan. Hahaha!
Pelaku tindak kejahatan yang masih meresahkan ini sudah semestinya mendapat penanganan khusus. Sebut saja macam SMS (baca: Super Maximum Security) agar tidak terjadi lagi kasus serupa dikemudian hari. Karena bila tidak, SMS itu sendiri maknanya bisa bergeming menjadi Sistemnya Makin Semrawut. Wah, bisa berabe!
Jika sebelumnya kerap kali kita mendengar kasus KDRT atawa kekerasan dalam rumah tangga, tapi kini muncul kembali kasus KDRT yang baru, yakni kekerasan dalam rumah tahanan. (46)
Ucup "Kelik" Pelipur Lara

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

D K P, Dana Kampanye Presiden

 

MASIH jelas dalam ingatan kita tentang maraknya pesta demokrasi pada pertengahan tahun 2004 lalu. Sebuah ajang berlombanya para politisi negeri ini yang kita kenal dengan Pemilihan Umum. Yang jelas Pemilu saat itu dimeriahkan oleh partai besar dan partai kecil. Wah, malah kayak mau bisnis catering aja
Pakai istilah partai besar dan partai kecil segala. Hahaha! Tapi saya yakin, bahwa semuanya pasti memiliki visi dan misi cemerlang.
Bahkan tiap-tiap tubuh partai didukung oleh orang-orang yang cakap dan intelek, juga profesional di bidangnya. Pokoknya, yang namanya partai politik saat itu semuanya oke. Termasuk oke-okehan massa. Hahaha!
Hampir semua partai melakukan kampanye besar-besaran. Para jurkam piawai mencari mangsa. Eh, massa, ding! Ribuan bahkan jutaan kostum berlogo partai dan gambar wajah capres beserta cawapres dibagikan secara cuma-cuma.
Cuma mungkin, hanya golput saat itu yang tidak kebagian. Hehehe!
Belum lagi spanduk, baliho, hingga iklan di media elektronik, baik radio maupun televisi. Tentunya semua menelan biaya yang tidak sedikit. Bisa-bisa menghabiskan dana kurang lebih bisa 3 M, maksudnya Membersihkan, Menutup, dan Menimbun. Wayooo!
Di balik kemeriahan itu semua, ada sesuatu yang mungkin tidak pernah kita pikirkan. Yakni dari mana asal mula biaya operasional kampanye itu? Nah, lo?!
Sebuah Pengakuan
Adalah Amien Rais, salah satu tokoh yang ikut mencalonkan diri dalam Pemilu 2004 sebagai capres.
Selain sebagai tokoh PETER PAN alias Pemimpin Ternama Partai Amanat Nasional, hehehe, beliau juga dikenal sebagai Pahlawan Reformasi yang gentleman. Terbukti, beliaulah yang mengutarakan adanya ketidakberesan dana kampanye yang konon diperoleh dari dana non budgeter DKP atawa Departemen Kelautan dan Perikanan. Pengakuan beliau sungguh mencengangkan.
Katanya beliau menerima langsung amplop berisi Rp. 200 juta dan Rp 200 juta lagi diterima oleh tim suksesnya. Belum lagi partai-partai lain yang disinyalir juga menerima amplop dengan jumlah bervariasi. Kalau memang demikian adanya, anggap saja kita sama-sama lagi asik nonton sinetron berjudul, "Angin tak dapat membaca". Hahaha!
Sebagai tokoh utama kita dalam episode ini adalah Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Katanya secara jelas menghimpun dana yang kemudian dikucurkan ke beberapa partai politik. Bahkan sang jawara pasangan ganda putra SBY-MJK konon juga menerima dana tersebut, walau hal itu dibantah keduanya.
Satu hal yang menjadi kesalahan mendasar manusia di Indonesia adalah ketika masih balita, mereka selalu diberi suntikan imunisasi kekebalan, maka tak heran jika sudah besar mereka kini bisa kebal hukum.
Nah, seandainya saat balita diberikan imunisasi kejujuran, pasti semuanya bakal "jujur" kayak lagunya Radja. Hahaha!
Kesengajaan
Apabila saat itu Departemen Kelautan dan Perikanan benar-benar telah mengucurkan dana nonbudgeter sebesar Rp. 1,283 miliar. Wauuww, jumlah yang fantastis untuk dihamburkan dan dibagi-bagi demi mulusnya jalan untuk ikutan hidup senang di belakang tahta republik ini.
Ironis memang, bagaimana tidak? Kasus korupsi lain masih banyak yang belum terungkap. Eee, ini malah ada kasus baru lagi. Adalah yang namanya Koruptor, Korupsi Rupiah Upaya Tindakan Kotor.
Rupanya kasus ini murni disengaja. Mengingat hampir semua partai politik yang mendominasi Pemilu 2004 tak luput dari pendanaan non budgeter ini. Jelas semua itu ada udang di balik Pemilu. Hehehe!
Dalam kasus ini pun sudah ada saksi. Konon Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi juga telah memberikan kesaksian terhadap pengumpulan dana ilegal di tubuh departemen itu pada Sidang Tipikor. Kesaksiannya ibarat bait sebuah plesetan lagu anak-anak yang berbunyi,
Kasih itu, kepada siapa?
Tak terhingga, sepanjang massa...
Hanya Numberi, tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia, Hahaha!
Jika semua sudah terbukti jelas, so pasti DKP yang seharusnya berarti Departemen Kelautan dan Perikanan akan beralih arti menjadi Dana Kampanye Presiden. He-eh! (23)
Ucup "Kelik" Pelipur Lara

 

Ucup Kelik Tentang Humor

Humor Tak Harus Menghina

Humor - Memang menjadi senjata untuk membuat semua orang ketawa terbahak-bahak. Hamun, membuat sesuatu yang lucu itu tidak harus dengan menjatuhkan kondisi fisik orang lain atau mengejek dengan maksud menjelek-jelekkan orang lain.
Hal itu diutrakan Ucup Kelik. Pria bernama lengkap Raden Kelik Sumaryoto yang memang sudah identik dengan pelesetan. ``Pelesetan itu jenis humor cerdas. Saya harus mengandalkan kecepatan mengolah kata dengan tetap mengusahakan publik mengikuti maksud saya,'' ujar pria kelahiran Yogyakarta ini.
Humor, ujar dia, tak cuma berujung-pangkal pada penciptaan tawa. Humor berkualitas memberikan katarsis atau pencerahan ke khalayak umum. Pria yang pernah memerankan tugas sebagai Wakil Presiden ini menjadikan humor sebagai wahana kritik.
``Sama sekali tak berniat menjelek-jelekkan. Wakil Presiden Kalla pernah mewacanakan hendak melarang tayangan 'Republik BBM'. Padahal, siapa pun tak berhak melarang. Presiden sekalipun. Yang bisa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI),'' ujarnya.
Kini, Kelik menyiapkan buku terbaru. Dia bakal membukukan tulisan pada rubrik 'Capek (Catatan Pelesetan Kelik)' di Suara Merdeka plus tulisan lain, Juni nanti, dengan judul Republik BBM, Sekali Plesetan Tetap Plesetan.
``'Saya akan menopik soal reshuffle hingga lumpur Lapindo. Juga usulan agar tak terjadi lagi pemerkosaan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia, kita kirim tenaga kerja waria (TKW),'' katanya.
Dia bersetia pada jalur pelesetan sebagai strategi kritik tanpa efek menyakitkan. Karena itu dia bergantung pada koran untuk menambah vitamin pengetahuan agar selalu aktual. Dia berlangganan 10 koran. Usai subuh, dia membaca koran itu saban hari. ``Kemampuan pelesetan saya tertolong oleh kesukaan membuat kliping apa saja sejak kecil.''
Pelesetan seperti musik parodi. Seseorang harus bisa bermain musik dahulu untuk bisa memarodikan lagu. ``Dengan membaca koran, saya bisa mengusai topik terkini untuk saya pelesetkan. Itu salah satu rahasia menjaga konsistensi mutu lawakan,'' katanya.(real)

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

SPA, Semarang Pitulas Agustusan

Piring apa yang paling meriah? Jawabnya pasti, ``Piringatan Tujuh Belas Agustus''. KUTIPAN di atas ini merupakan teka-teki plesetan tempo doeloe. Kedengarannya lucu, tapi lebih lucu lagi kalau pas hari ``Peringatan Tujuh Belas Agustus'' tiba.
Lho, kenapa? Karena aneka kegiatan lomba pasti digelar di tiap-tiap kampung, sekolah-sekolah, dan instansi-instansi sekali pun. Sebagai amsal, ada lomba lari karung, ngipasin balon, panjat pinang, de-el-el. Pokoke, semuanya lucu-lucu.
So pasti namanya juga lucu belas agustus! Hehehe! Salah satu dari sekian banyak wujud kemeriahan menyambut hari kemerdekaan Republik tercinta ini, berlangsung di Kota Semarang.
Kabarnya Ibu Kota Jawa Tengah ini sedang sibuk dan heboh lantaran kota ini bakal menjadi ikon yang bernama SPA. Bukannya tempat untuk relax dan refreshing, tapi SPA yang dimaksud adalah Semarang Pesona Asia. So pasti juga bisa bermakna Semarang Punya Agenda. Lantas sebenarnya SPA itu, Siapa Punya Agenda? Hahaha!
Dengan sistem pengamanan yang ruarrrr... biasa, akhirnya event ini secara resmi dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis malam (9/8).
Sesuai rencana, acara ini bakal berlangsung hingga Rabu (15/8). SPA adalah merupakan program Pemerintah Kota Semarang sebagai ajang promosi potensi pariwisata, budaya, serta potensi perekonomian.
Perhelatan ini menghabiskan biaya yang tidak sedikit tentunya. Lalu apa yang menjadi obsesi dengan digelarnya acara ini? Yang jelas agar semua kekayaan potensi yang dimiliki masyarakat dapat ditunjukkan kepada dunia internasional. Bukan sekadar dipamerkan namun juga dikembangkan dan dikelola.
Tentunya kita semua berharap semoga tidak terjadi istilah, ''Ada Udang Di Balik Proyek''. He-eh!
Program SPA ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat Semarang khususnya. Namun sayang, ternyata juga melahirkan kontradiksi. Terbukti saat SPA ini akan dibuka dan diresmikan oleh Presiden RI, ratusan aktivis mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa menolak pelaksanaan program tersebut. Kabarnya aksi mahasiswa ini berakhir ricuh karena sejumlah mahasiswa berusaha menurunkan bendera di halaman kantor RRI.
Upaya ini pun dicegah sehingga terjadi tarik menarik tali bendera. Wah, jangan-jangan mereka tengah belajar sebagai pengibar bendera jelang upacara tujuh belasan besok.
Upsss! Alhasil, pihak keamanan yang turun ke lokasi segera menangkap dan menahan dua mahasiswa. Mereka lantas dimintai keterangan atas aksi yang mereka lakukan. Tuh, kan! Namanya juga demokrasi, artinya setiap ada yang demo pasti dikerasi. Hihihi!
Tapi kini terbesit kabar tatkala uang rupiah menguat, ternyata memang menguat... maksudnya menguatirkan rakyat. Weleh!
Hal itu terbukti bahwa harga-harga sembako juga cenderung ikut menguat harganya. Tul, gak?!
Menjadi tradisi bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia ini memang sarat dengan kemeriahan.
Apapun dan dimana pun kemeriahan itu berlangsung semata-mata adalah untuk mempertangguh persatuan dan kesatuan.
Seperti halnya semangat saudara-saudara kita di kota Semarang yang heboh dengan program SPA-nya alias Semarang Pitulas Agustusan. Hahaha!(77)
- Ucup "Kelik" Pelipur Lara

 

Tentang Paman Sam

Siapakah "Paman Sam?"

 Payabo - Tahukah Anda?! Siapakah sebenarnya Paman Sam itu? Tentunya Anda pernah mendengar istilah "Negeri Paman Sam" bukan?! Ketika Anda mendengar istilah itu, saya yakin bahwa pikiran anda akan langsung tertuju pada Amerika Serikat. Tetapi tahukah Anda mengapa Amerika Serikat dijuluki "Negeri Paman Sam?" Ingin tahu sejarahnya? Silahkan dibaca.

Paman Sam adalah seorang personifikasi pemerintah Amerika yang digunakan selama perang tahun 1812. Dia digambarkan sebagai seorang pria tua yang keras, berambut putih, dan berjanggut. Biasanya dia mengenakan pakaian yang mengingatkan orang-orang yang melihatnya kepada Amerika. Misalnya memakai topi bercorak bendera Amerika, bergaris merah dan putih dengan motif bintang-bintang putih dengan latar belakang biru, dan celana panjang bergaris merah dan putih.

Nama aslinya adalah Samuel Wilson, Ia berasal dari Troy, New York. Tugasnya menyuplai daging untuk angkatan darat Amerika pada perang tahun 1812. Uniknya adalah, pada kotak-kotak daging yang Ia gunakan tertera label "US". Orang-orang menyebut "US" sebagai singkatan dari United States (nama lain dari Amerika Serikat), pedahal itu adalah singkatan dari "Uncle Sam".

Sabtu, 11 Februari 2012

Dibalik Pembobolan Brankas Bank Kalsel

Penyesalan Yang Terlambat

Muhammad – Bakti Firmansyah (26) yang tak lain adalah sekuriti Bank Kalsel cabang kantor kas Pemko Banjarmasin, ini terlihat tegar duduk di ruang penyidik Sat Reskrim Polda Kalsel, Sabtu (11/2) dini hari.
Sebiji timah panas yang bersarang di kaki kanannya tak membuatnya meringik kesakitan. Ia dengan tenang menjelaskan adegan per adegan detail peristiwa perampokan uang sekitar Rp700 juta tersebut.
Rasa sakit ayah satu anak ini tertutupi dengan rasa penyesalannya yang teramat dalam di hatinya. Ia tak lagi khawatir dengan apapun yang terjadi dengan dirinya karena rasa bersalah atas perbuatan yang ia lakukan Kamis (9/2) siang itu.
Berkali-kali ucapan penyesalan dari mulutnya terdengar halus. Dalam ucapan itu, tanpa sekalipun ia mengeluh sakit meski sebiji peluru itu belum dikeluarkan dari kakinya dan terus mengeluarkan darah.
Hanya saja, rasa penyelasan yang terucap dari Bakti sudah terlambat. Ia tak bisa lagi melepaskan diri dari jeratan hukum setelah ditangkap petugas gabungan Sat Reskrim Polresta Banjarmasin dan Dit Krimum Polda Kalsel, Jumat (10/2) sekitar pukul 09.15 WITA.
Warga Desa Kertak Empat RT 2 RW 1 kelurahan Pangeran Kabupaten Banjar, ini ditangkap di peternakan ayam potong di Jalan Sungai Paring KM 27, Kecamatan Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng atau tepatnya sekitar 107 kilometer dari kota Sampit. Ia diamankan bersama barang bukti uang Rp5 juta.
``Tau polisi datang, saya waktu itu sedang duduk dia melihat ada mobil yang datang tapi saya tidak lari, karena saya sudah pasrah memang mau ditangkap, biargimanapun saya mau menyerahkan diri soalnya ingat anak istri,’’ ungkapnya.
Bakti mengaku memang sudah pasrah dan tak ingin melarikan diri lebih jauh lagi. Ia tidak ingin menjadi buron yang lari jauh. `` Kada handak telalu hilang (tidak mau terlalu menghilang), cukup tau aja sampai mana ditangkap,’’ lirihnya.
Bakti terus berucap setelah melakukan aksi itu timbul perasaan penyesalan darinya. Hanya saja, ia sadar penyesalan itu sudah terlambat. ``Sudah ada kepikiran di mobil ada berucap dalam hari menyesal tapi sudah terlanjur, melihat mobil polisi masuk dari arah Palangkaraya tidak mau melawan karena pasrah,’’ ucapnya.
Sehari sebelum kejadian, Bakti memang tidak masuk kerja dengan alasan ada keluarga yang meninggal. Tidak masuknya sekuriti itupun menjadi spekulasi untuk menyusun rencana.
``Tidak masuk kerja itu bukan untuk menyusun rencana untuk beraksi, tapi karena bingung antara maju atau mundur, mau mundur kepikiran bayar sewa mobil, sewa mobil dari hari minggu,’’ ketusnya.
Bakti mengakui, muncul ide melakukan aksi itu semenjak dua bulan yang lalu. Namun, tambahnya, untuk perencanaan baru dilakukan beberapa hari yang lalu.  `` 5 menit sebelum kejadian Udin belum di lokasi, 3 menit sebelum kejadian dia nelpon lagi nanya kondisi itupun saya jawab masih ada orang, padahal sudah sepi, karena saya masih bingun mau beraksi atau tidak, sempat mau mundur tapi ingat hutang, setelah Udin datang  jam 12 kurang baru beraksi,’’ akunya.
Diceritakan Bakti, ia tidak menggunakan uang hasil curian itu untuk membeli harta. Uang itu, katanya, hanya terpaka untuk membeli bensin, sewa travel dan makan minum saat di jalan dalam pelarian.
``Saya berpisah sama Udin di Sungai Paring itu, di rumah kawan Udin, pas tertidur bangun Udin sudah tidak ada, Udin bawa kabur sisa uangnya, saya ditinggalin Rp5 juta,’’ urainya.
Usai melakukan aksi perampokan bersama Udin, lanjutnya, mereka langsung bertemu Rian di kawan Anjir KM 25. disana, tambahnya, uang dibagi begitu saja tanpa hitung menghitung.
``Uangnya dibagi dua, Rian menyimpan Rp400 juta, sisanya saya bawa ke Kalteng bersama Udin, jadi uang yang ada sama Udin sisanya yang sama Rian,’’ cetusnya seraya mengatakan belum ada pembicaraan pembagian antara dirinya, Udin dan Rian.
Rian yang ditangkap di Penggalaman, Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar itu tidak berselang lama usai tertangkapnya Bakti.
``Saya nekad karena pengen bayar hutang Rp 5 juta, saya ada hutang sama orang, saya punya hutang gajih Rp 1,1 juta tidak cukup buat bayar, hutang buat anak istri, ’’ ujarnya.
Berbeda dengan pengkuan Bakti yang menyatakan tidak melawan saat dilakukan penangkapan, Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Roy Satya Putra mengatakan ada perlawan dari Bakti ketika hendak diamankan. ``Memang dari tersangka ada perlawanan saat ditangkap, hendak melarikan diri sehingga ahrus dilumpuhkan,’’ jelasnya.
Dijelaskan Roy, dalam melakukan penangkapan yang kurang lebih 12 jam dari kejadian itu, pihaknya 12 orang berangkat ke Sampit. ``Ada pelaku yang masih lari yakni atas nama Udin, kita masih melacak keberadaannya,’’ katanya.
Ditanya apa saja barang bukti yang diamankan Roy menjawab ada beberapa barang yang dijadikan abrang bukti. ``Uang tunai kurang lebih Rp330 juta, juga ada kalung emas, ada kendaraan Suzuki X Over yang digunakan untuk lari ke Sampit,’’ bebernya.
Sisa uang pembobolan Bank tersebut, kata Roy, dibawa lari bersama Udin. ``Udin tetap kita kejar sampai tertangkap, pelaku dikenakan pasal 365 KUHP dengan ancaman kurungan 5 tahun lebih,’’ cetusnya.(mns/K-4)

Soal Isu SARA di Tanbu


DAD Tanbu Himbau Masyarakat Luar Tak Ikut Campur
[]Dikhawatirkan Memperkeruh Suasana

Banjarmasin, KP – Dewan Adat Dayat (DAD) Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) merasa tersinggung dengan adanya pertemuan yang digelar lembaga lain dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Tanbu, terkait isu sara yang belakangan marak beredar..
Sebabnya, pertemuan yang juga dihadiri Bupati, Kapolres, Dandim, serta beberapa masyarakat di Hotel Ebony bebera waktu yang lalu itu, justru melibatkan masyarakat luar Tanbu. DAD justru mengkhawatirkan pertemuan yang melahirkan surat himbauan bersama itu, akan memperkeruh suasana di Tanbu.
Dalam pertemuan (24/1) yang lalu itu, dihadiri perwakilan Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Kalimantan Selatan (LMMD-KS), APP-GMTPS Kalteng serta Lembaga Paguyupan Masyarakat Bugis Tanah Bumbu (LPMTB).
Rabu (1/2), Ketua DAD Tanbu, Mundut D Minda mengatakan, pihaknya keberatan dengan pernyataan dua lembag yang bukan berasal dari Tanbu itu. sebabnya, lanjutnya, dalam pernyataan surat himbauan itu tokoh adapt dayak Tanbu justru tidak dilibatkan.
``Apakah mereka (Masyarakat luar,red) bisa menjamin tidak terjadi kerusuhan di Tanah Bumbu kalau Ketua DAD Tanbu tidak dilibatkan,’’ jelasnya.
Menurutnya, untuk meredam isu sara yang terjadi itu, pihaknya langsung terjun ke lapangan. Bahkan, katanya, pihaknya sampai naik turun gunung untuk menyambangi masyarakat dayak yang berada di pedalaman.
``Demo kemarin bukan masyarakat Tanbu yang berdemo, memang ada sebagian kecil yang ikut, kita keberatan dengan surat pernyataan itu karena mengatasnamakan DAD Tanbu,’’ cetusnya.
Ia mempertanyakan, kenapa dengan munculnya isu di masyarakat itu justru lembaga luar Tanbu yang ikut campur. Padahal, tambahnya, jelas-jelas kalau lembaga daerah lain tidak mengetahui seluk beluk permasalahannya.
``Justru kita yang mempertemukan PT TIA dengan masyarakat, permasalahan lahan PT TIA bisa diselesaikan baik-baik, PT TIA memang sudah ada permbicaraan untuk membayar ganti rugi, hanya saja belum ada kesepakatan dengan warga,’’ tuturnya.
Diungkapkan Mundut, penyelesaian isu SARA di Tanbu tidak perlu melibatkan masyarakat luar. Seharusnya, katanya, diselesaikan masyarakat adapt yang ada di Tanbu sendiri. ``Campur tangan pihak luar hanya akan memperkeruh isu SARA di Tanbu yang berdampak mengacaukan stabiltas,’’ ujarnya.
Ia mengatakan, ia bersama tokoh masyarakat adat lainnya yang ada di Tanbu sudah melakukan pertemua pada tanggal 23 Januari di kediaman Bupati. Sementara, sambungnya, pertemua terakhir tidak melibatkan masyarakat adapt setempat.
``Mendapatkan copy surat himbauan tersebut pada prisifnya DAD Tanbu mendukung, namun kenapa DAD Tanbu tidak dilibatkan dalam musyawarah itu,’’ kritik Mandut terhadap pertemuan itu.
Menurutnya, kesepakatan itu selain tidak melibatkan DAD Tanbu, HKSS (Bugis) Pagatan, Tokoh Jawa, Bali dan lainnya juga tidak disertakan. ``Menyangkut lahan diharapkan semua pihak bisa menyelesikan secara arif dan bijaksana,’’ himbaunya.
Ia mengingatkan agar masyarakat Tanbu jangan pernah mau dimanfaatkan dan diadu domba untuk mengurus tanah yang tidak menjadi haknya. ``Kita meminta kepada masyarakat adapt yang bukan berdomisili di Tanbu agar tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu,’’ tuturnya.(mns/K-4)

Nelayan Kotabaru Tewas Ditembak


Dua Oknum Brimob Kelapa II Masuk Sel Polda Kalsel
[]Terkait Penembakan Yang Menewaskan Seorang Nelayan

Banjarmasin, KP – Kasus penembakan terhadap nelayan di perairan Tanjung Mangkok, Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, menyeret dua oknum Brimob Kelapa II yakni Brigadir DRT dan Briptu GM. Dalam kasus yang menewaskan nelayan bernama Lampe itu, keduanya dijebloskan ke sel tahanan Polda Kalsel, Jumat (13/1).
Pejabat Sementara Kabid Humas Polda Kalsel, AKBP Aby Nursetyanto menjelaskan, dua oknum itu ditahan karena diduga menjadi pelaku penembakan terhadap nelayan di perairan Sebuku, Rabu (11/1) yang lalu.
Menurut Aby, kejadian itu saat kapal nelayan Malioboro yang tumpangi lima orang dalam perjalanan dari daerah Pagatan Tanah Bumbu menuju Kotabaru untuk melakukan aktivitasnya.
Saat dalam perjalanan, kata Aby, atau tepatnya di daerah Pulau Sebuku, kapal nelayan itu menambatkan ke tongkang yang berisikan peti kemas Lintas Segara dengan alasan untuk istrirahan dan menghemat bahan bakar.
Begitu kapal nelayan itu ditambatkan, terjadi penembakan dari Tagboat Faria Usaha IX yang menarik tongkang tersebut. Penembakan itu, dilakukan oleh Brigadir DRT dan Briptu GM. Dalam peristiwa itu, peluru bersarang di pinggangnya. Sementara seorang temannya, kena tembak di kaki.
Selanjutnya, para nelayan ini langsung melaporkan kejadian itu ke Polres Kotabaru. Sementara tugboat itu, melanjutkan perjalanannya menuju Kalimantan Timur (Kaltim). ``Kapal (Tugboat) ini bukan atau pun berasal atau berangkat dari Banjarmasin, tapi dari Jakarta menuju Semarang lewat wilayah kita Kalsel menuju Kaltim, kebetulan pas lewat daerah Sebuku terjadi peristiwa itu,’’ jelas perwira yang juga menjabat sebagai Wadir Krimum Polda Kalsel itu.
Menerima laporan itu, petugas Polres Kotabaru berkoordinasi dengan Sat Polair Polres Kotabaru. Selanjutnya, Sat Polair melakukan kontak dengan Lanal Kotabaru untuk melakukan pengejaran terhadap tugboat tersebut.
Hasilnya, Kamis (12/1) pagi sekitar pukul 07.00 WITA, di perairan Tanjung Samalantakan, Kecamatan Pamukan Selatan, tugboat itu diamankan. Tugboat tersebut diserahkan ke Polda Kalsel.
Dalam insiden berdarah itu, ada dua persi kejadian yang beredar. Penjelasan dari masyarakat sekitar, kapal nelayan ditambatkan karena cuaca buruk dan berteduh di tugboat tersebut.
Ketika naik, disuruh turun oleh kedua oknum itu. Setelah turun, terjadilah penembakan tersebut. Namun, dari keterangan kedua oknum itu menyebutkan, kompresor di tugboat yang mereka kawal hendak dicuri oleh nelayan tersebut. Setelah disuruh turun, terjadilah penembakan.
``Sebenarnya Brimob (DRT dan GM) ini tidak menembak orangnya, dia ingin menembak mesin kapal nelayan itu, tapi peluru rekoset mengenai nelayan segingga menyebabkan satu luka dan satu meninggal dunia,’’ terang Aby.
Menurut Aby, secara prosuder petugas diperbolehkan menembakkan senjatanya jika terjadi oper mas atau keterpaksaan ataupun mengancam jiwa petugas. Hal itu, katanya, bisa dilakukan dengan prosuder tembakan peringatan.
Ditanya apakah ada tembakan peringatan dari kedua oknum Brimob itu, Aby mengatakan, saat ini pihaknya masih mendalami kasus tersebut. Dalam hal inipun, sambungnya, Direktorat Krimum Polda Kalsel bekerjasama dengan Bidang Propam Polda Kalsel dan juga Mabes Polri untuk melakukan penyidikan.
``Karena apa? Karena oknum ini dari Mabes Polri dalam hal ini Kelapa Dua, oknum itu dibawa Polair menuju ke Polda, oknum sudah ditahan di Polda,’’ kata Aby.
Dijelaskan Aby, kedua oknum itu akan diperiksa secara bergantian antara penyidik Bid Propam dan Dit Reskrimum serta dari Mabes Polri. ``Kenapa Propam dilibatkan, ini untuk mengecek adminitrasi mereka (oknum) baik surat perintah dan lain-lain sebagainya,’’ terangnya.
Atas insiden yang melibatkan oknum Polri itu, Aby mengungkapkan rasa belasungkawanya kepada keluarga korban. ``Mewakili institusi Polri, Polda khususnya, saya meminta maaf kepada masyarakat atau korban dan keluarganya atas kelalaian ini, dan kita akan memproses secara adil siapa pun itu baik itu oknumnya dan sebagainya,’’ pesan Aby.
Aby mengungkapkan, beberapa anak buah kapal (ABK) tugboat tersebut juga dimintai keterangan. Setidaknya, ada 10 orang yang memberikan keterangan kepada penyidik. ``Mereka (pelaku) akan di sel, diperlakukan sama dengan warga yang lain, dari polres menyerahkan ke Polda, dan Polda akan memproses bekerjasama dengan Propam dan Mabes,’’ ujarnya.
Disinggung apakah kasus kedua oknum itu akan diserahkan kepada atasan yang berhak memberikan hukuman (ankum) nya, secara tegas Aby membantahnya. Kasus itu akan tetap ditangani Polda Kalsel.
``Lokus deliktinya ada di Kalsel, hukuman maksimal dipecat, tim sedang menuju ke kapal untuk olah TKP (tempat kejadian perkara), dua persi yang sedang kita selidiki, kalau yang terbukti apa yang diungkapkan nelayan maka oknum akan kita proses secara adil, kalau terbukti juga nelayan mengambil juga kita ungkap secara adil,’’ tegasnya.
Sebelumnya, satu unit tugboat yang menarik peti kemas menuju Kalimantan Timur (Kaltim) diamankan petugas gabungan TNI-AL dan Polres Kotabaru, Kamis (12/1) pagi sekitar pukul 07.00 WITA, di perairan Tanjung Samalantakan, Kecamatan Pamukan Selatan.
Hal itu terkait seorang nelayan Kotabaru Lampe (60) tewas ditembak orang yang tidak dikenal dan diduga berada di tugboat yang menarik tongkang pengangkut petikemas di Perairan Tanjung Mangkok, Pulau Sebuku, Kotabaru Rabu sore (11/1).
Lampe meninggal diduga akibat luka tembak di bagian pinggang, selain Lampe satu korban luka yakni Andi Daha yang terkena tembakan dibagian paha dan betis.(mns/K-4)