C A P E K Catatan Pelesetan Kelik
DKI, Daerah Kebanjiran Ibukota
Siti KDI Ok! Siti Nurhaliza Yes! Siti Fadhilah Supari (?)
BANJIR Jakarta telah surut. Kita semua tentu surut bersuka cita. Meski korban telah jatuh, puluhan nyawa telah melayang, setidaknya problem rutin tiap tahun itu untuk sementara telah usai. Karena banjir yang telah menyebabkan Jakarta seperti waterworld itu hanya berusai beberapa hari (maksudnya berusia hihihi).
Coba kalo berusai bertahun-tahun, wacana yang dilontarkan DPD untuk memindah Ibu Kota dari Jakarta tentu akan direalisasikan. Aliran listrik yang berhari-hari padam dari PLN alias Pasti Lama Nyalanya, telah kembali menyala dan normal. Geliat kehidupan Ibu Kota pun kembali berdenyut.
Sudah selesaikah persoalannya? Ternyata belum. Masih ada PR alias Pekerjaan Rumah atawa Pekerjaan Rutin yang menyusul. Pascabanjir, datang penyakit "baru".
Penyakit yang kemudian kita kenal dengan sebutan leptospirosis seperti
tagline-nya Tukul Arwana: "kembali ke leptos" hehehe dan bukan kayak pantun Jawa (baca:
parikan)
tagline kecemplung kalen, tinimbang golek aluwung balen ñ itu konon disebabkan oleh kencing tikus, anjing, dan kucing yang ikut hanyut bersama air bah.
Namun ada kencing yang tidak menyebabkan penyakit, yakni kencing baju. Hehehe! Yang aneh, penyakit ini muncul bersamaan dengan berakhirnya banjir. Apakah tikus, anjing, dan kucing hanya kencing di saat banjir ya? Mungkin biar gak kucinggalan jaman? He-eh!
Penyakit yang satu ini pun tidak bisa dianggap remeh temeh alias main-main lantaran sudah pula menimbulkan korban. Para pengungsi korban banjir beberapa di antaranya sudah dideteksi positif menderita penyakit ini. Dan bukan tidak mungkin, kata Mungkin Alatas, penyakit ini juga bisa menyebar.
Padahal kalo kita bicara tentang penyakit maka sesuai maknanya PENderitanya YA KITa ini. Bukan hanya leptospirosis yang kini sedang menjadi tren di Ibu Kota, melainkan juga penyakit-penyakit yang lain, seperti dalam peribahasa yang berbunyi, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Artinya, lain dulu lain sekarang, dibuka dulu baru diserang. Ya, nggak?!
Sebelumnya, tentu kita sudah sangat hafal dengan istilah flu burung atau Avian Influenza. Penyakit ini konon kabarnya pertama kali muncul di Ibu Kota Jawa Tengah, tepatnya Semarang. Kenapa? Karena plat nomornya H 5 N1.
Penyakit ini telah berjangkit sejak beberapa tahun silam, tepatnya pada saat Harkitnas atawa Hari Kejangkitan Nasional. Penyebabnya unggas. Dan upaya pemberantasan pun telah dilakukan, termasuk pemusnahan unggas. Bahkan di Jakarta sudah diadakan sertifikasi unggas, termasuk ayam, kecuali ayam goreng to school dan ayam semesta. Untuk mengatasi masalah flu burung ini, sebaiknya kita serahkan saja ke FBI atau Flu Burung Investigation. Ihiiik!
Sebelumnya lagi, kita sudah mengenal penyakit demam berdarah dengue (DBD) atau yang sering disebut orang hanya dengan sebutan DB. Tapi bukan DB Yusuf dan DB Sahertian, lho!
Penyakit ini pun menyebar merata hampir seantero Nusantara. Dan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegepty ini pun sudah menelan banyak korban jiwa. Kecuali yang anti dengan penyakit DBD adalah Demam Berdarah Dingin. Hihihi!
Penyakit lain yang sesungguhnya sudah laten namun jarang diekspos adalah malaria. Penyakit ini endeminya di Papua. Wah, malah kayak lagunya Elpamas, Papua sudahlah. Engkau sudah terlihat lelah yaaa!
Hampir setiap saat masyarakat kita di Papua maupun pendatang yang kemudian bermukim di sana, terjangkit penyakit yang penyebarannya juga lewat media nyamuk ini.
Namun secara nasional yang sempat menjangkit dan diekspos besar-besaran adalah wabah Malaria Eva (ME) yang bersama YZ bikin heboh pentas politik nasional tempo hari.
Penyakit-penyakit itu secara rutin hadir menjemput kita dari tahun ke tahun. Seperti tak pernah capek karena memang yang capek hanya Pak Ogah: Capek dulu dong! ñ mereka menyerang kita terus-menerus. Dan kita pun sepertinya selalu kehabisan tenaga untuk mengatasinya.
Ambil saja contoh DBD (tapi bukan Dewan Bimpinan Daerah lho!). Tahun lalu penyakit ini juga menyerang banyak wilayah di negara kita. Dan tahun ini, korban pun telah banyak berjatuhan. Padahal, biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga penderita cukup besar. Mungkin sesuai namanya DBD yakni Ditanggung Besar Dananya. Tapi tetap saja, penyakit yang satu ini menjangkit. Kalaupun sedikit berhasil diatasi, bisa dipastikan di waktu-waktu mendatang akan muncul lagi.
Contoh lain masalah flu burung. Wabah penyakit ini malah lebih heboh lagi. Karena yang diatasi bukan hanya penderita berupa manusia namun juga unggas. Ini cukup merepotkan. Berbagai dugaan pun mulai bermunculan.
Antara lain menyebutkan, penyebaran virus ini sudah mulai berjangkit dari manusia ke manusia, namun Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari membantahnya dengan tegas.
Penyebaran virus flu burung disebutnya masih sebatas dari unggas ke manusia. Untuk membantah soal itu, Menkes memang tergolong tokoh vokal, tapi bukan vokal yang berarti Volume Keras Asal Lantang lho!.
Kita kemudian mendengar berita " eh derita ding... " bahwa ribuan unggas dimusnahkan dengan cara dibakar. Mungkin maksudnya untuk membasmi akar permasalahannya atau ingin ikut-ikutan terkenal kayak Rally Paris-Bakar maupun penyanyi dangdut Annisa Bakar. Bahkan di Jakarta lebih ekstrem lagi, yakni unggas yang diizinkan bermukim adalah unggas-unggas yang telah disertifikasi. Padahal berapa biaya sertifikasi? Jangan-jangan jauh lebih mahal dari harga unggasnya. Ini bisa terjadi lho!
Kalo serbuan penyakit datang bertubi-tubi dan terus menjalar seperti tubi jalar, tentu saja yang paling sibuk adalah Menteri Kesehatan. Berbagai upaya dilakukannya selaku "wakil" dari Pemerintah.
Namun sepertinya upaya-upaya yang dilakukan itu hanya bersifat temporer atawa sesaat. Padahal peribahasa menyebutkan, malu bertanya sesaat di jalan. Bagaimana tidak kalo pada saatnya kemudian, penyakit itu datang lagi.
Memang, sudah sejak dulu kita tahu bahwa pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Tapi mau bagaimana lagi kalo faktanya unggas merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat kita? Haruskah masyarakat merelakan sumber penghasilannya dan berpindah ke bidang lain hanya agar tidak terjangkit flu burung misalnya? Ini jelas butuh lapangan pekerjaan bukan lapangan bola!
Kalo menengok permasalahan yang tak kunjung usai ini, barangkali istilah Menkes terancam bisa bergeser dari Menteri Kesehatan menjadi Eksperimen Kesehatan. Karena kesannya masyarakat yang menjadi lahan eksperimen. Penyakit yang datang menyerbu dijadikan sarana percobaan upaya penanggulangannya. Masyarakat pun terkesan jadi kelinci percobaan.
Kalo sudah begitu, tiga baris kalimat yang saya tulis di atas bisa jadi bukan sesuatu yang aneh. Maka tak heran jika masyarakat kita lebih memilih Siti KDI dan Siti Nurhaliza lewat
polling SMS alias Suara Merdeka Semarang, ketimbang Siti Fadhilah Supari.
Ah, jangan sampai terjadi begitu lah.
Ke Irian beli burung Cendra
wasih.
Cukup sekian dan terima kasih.
Ke Irian lewa t Solo.
Cukup sekian, getu loh!
Ucup "Kelik" Pelipur Lara (45)