C A P E K Catatan Pelesetan Kelik
D K P, Dana Kampanye Presiden
MASIH jelas dalam ingatan kita tentang maraknya pesta demokrasi pada pertengahan tahun 2004 lalu. Sebuah ajang berlombanya para politisi negeri ini yang kita kenal dengan Pemilihan Umum. Yang jelas Pemilu saat itu dimeriahkan oleh partai besar dan partai kecil. Wah, malah kayak mau bisnis catering aja
Pakai istilah partai besar dan partai kecil segala. Hahaha! Tapi saya yakin, bahwa semuanya pasti memiliki visi dan misi cemerlang.Bahkan tiap-tiap tubuh partai didukung oleh orang-orang yang cakap dan intelek, juga profesional di bidangnya. Pokoknya, yang namanya partai politik saat itu semuanya oke. Termasuk oke-okehan massa. Hahaha!
Hampir semua partai melakukan kampanye besar-besaran. Para jurkam piawai mencari mangsa. Eh, massa, ding! Ribuan bahkan jutaan kostum berlogo partai dan gambar wajah capres beserta cawapres dibagikan secara cuma-cuma.
Cuma mungkin, hanya golput saat itu yang tidak kebagian. Hehehe!
Belum lagi spanduk, baliho, hingga iklan di media elektronik, baik radio maupun televisi. Tentunya semua menelan biaya yang tidak sedikit. Bisa-bisa menghabiskan dana kurang lebih bisa 3 M, maksudnya Membersihkan, Menutup, dan Menimbun. Wayooo!
Di balik kemeriahan itu semua, ada sesuatu yang mungkin tidak pernah kita pikirkan. Yakni dari mana asal mula biaya operasional kampanye itu? Nah, lo?!
Sebuah Pengakuan
Adalah Amien Rais, salah satu tokoh yang ikut mencalonkan diri dalam Pemilu 2004 sebagai capres.
Selain sebagai tokoh PETER PAN alias Pemimpin Ternama Partai Amanat Nasional, hehehe, beliau juga dikenal sebagai Pahlawan Reformasi yang gentleman. Terbukti, beliaulah yang mengutarakan adanya ketidakberesan dana kampanye yang konon diperoleh dari dana non budgeter DKP atawa Departemen Kelautan dan Perikanan. Pengakuan beliau sungguh mencengangkan.
Katanya beliau menerima langsung amplop berisi Rp. 200 juta dan Rp 200 juta lagi diterima oleh tim suksesnya. Belum lagi partai-partai lain yang disinyalir juga menerima amplop dengan jumlah bervariasi. Kalau memang demikian adanya, anggap saja kita sama-sama lagi asik nonton sinetron berjudul, "Angin tak dapat membaca". Hahaha!
Sebagai tokoh utama kita dalam episode ini adalah Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Katanya secara jelas menghimpun dana yang kemudian dikucurkan ke beberapa partai politik. Bahkan sang jawara pasangan ganda putra SBY-MJK konon juga menerima dana tersebut, walau hal itu dibantah keduanya.
Satu hal yang menjadi kesalahan mendasar manusia di Indonesia adalah ketika masih balita, mereka selalu diberi suntikan imunisasi kekebalan, maka tak heran jika sudah besar mereka kini bisa kebal hukum.
Nah, seandainya saat balita diberikan imunisasi kejujuran, pasti semuanya bakal "jujur" kayak lagunya Radja. Hahaha!
Kesengajaan
Apabila saat itu Departemen Kelautan dan Perikanan benar-benar telah mengucurkan dana nonbudgeter sebesar Rp. 1,283 miliar. Wauuww, jumlah yang fantastis untuk dihamburkan dan dibagi-bagi demi mulusnya jalan untuk ikutan hidup senang di belakang tahta republik ini.
Ironis memang, bagaimana tidak? Kasus korupsi lain masih banyak yang belum terungkap. Eee, ini malah ada kasus baru lagi. Adalah yang namanya Koruptor, Korupsi Rupiah Upaya Tindakan Kotor.
Rupanya kasus ini murni disengaja. Mengingat hampir semua partai politik yang mendominasi Pemilu 2004 tak luput dari pendanaan non budgeter ini. Jelas semua itu ada udang di balik Pemilu. Hehehe!
Dalam kasus ini pun sudah ada saksi. Konon Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi juga telah memberikan kesaksian terhadap pengumpulan dana ilegal di tubuh departemen itu pada Sidang Tipikor. Kesaksiannya ibarat bait sebuah plesetan lagu anak-anak yang berbunyi,
Kasih itu, kepada siapa?
Tak terhingga, sepanjang massa...
Hanya Numberi, tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia, Hahaha!
Jika semua sudah terbukti jelas, so pasti DKP yang seharusnya berarti Departemen Kelautan dan Perikanan akan beralih arti menjadi Dana Kampanye Presiden. He-eh! (23)
Ucup "Kelik" Pelipur Lara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar