Selasa, 14 Februari 2012

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

Gairah Istimewa Yogyakarta

ADALAH Yogyakarta, sebuah daerah yang akrab disapa sebagai Kota Pendidikan dan terkenal pula dengan julukan Kota Gudeg. Namun lebih dari itu semua, selain Yogyakarta dikenal dengan julukan Yogyakarta Berhati Nyaman, ternyata Yogyakarta juga dikenal sebagai Daerah Istimewa dengan slogannya, Yogyakarta Berhati Nyam-nyam. Tentu karena terkenal banyak makanannya.
Sebagai daerah yang istimewa, so pasti Yogyakarta juga dipimpin oleh sosok pimpinan yang istimewa pula. Siapa lagi kalo bukan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Beliaulah yang merangkul seluruh masyarakat Yogyakarta. Bukan hanya secara politis, namun juga historis, kultural dan religi. Yogyakarta adalah sebuah kota yang multi etnis. Ada Jawa (Jaga wibawa), Betawi (Betah Tinggal di Wilayahnya), Batak (Banyak taktik), Padang (Pandai dagang), Sunda (Sukanya nikmati daun muda, hehehe, maksudnya lalapan), dan masih banyak lagi.
Hihihi! Tentu bukan hal yang mudah untuk mewujudkan satu rasa keharmonisan dan kebersamaan ditengah gejolak politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang semakin kritis. Apalagi pantai parang kritis. He-eh!
Sebuah Kejutan
Sabtu (7/4) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2008-2013. Masyarakat Yogyakarta tentu terkejut dengan pernyataan dari orang nomor satu di Yogyakarta itu. Ada yang menanggapinya dengan terharu, ada yang sedih, namun ada pula yang memberikan dukungan. Malahan ada pula yang berlagak kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Nah, lo!
Saat itu Beliau berkata, ''Dengan tulus, saya menyatakan tidak bersedia lagi menjabat sebagai gubernur kepala daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah masa jabatan 2003-2008 nanti.''
Lalu siapa yang pantas untuk menggantikan posisi Beliau? Hingga kini belum ada seorang pun yang lantang mencalonkan diri. Para bupati di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bersedia duduk di kursi Gubernur dengan segala argumen dan pandangan masing-masing.
Apa fenomena dibalik pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono X? Apakah Beliau hendak go nasional sebagai politikus? Ataukah ingin bergabung dengan mereka yang sibuk dengan kekuasaan yang lebih tinggi? Dan, setumpuk pertanyaan lain yang akhirnya menjadi polemik tak karuan.
Sri Sultan Hamengku Buwono X ternyata mempunyai sebuah komitmen dengan sang ayahanda ketika akan dinobatkan sebagai raja di Kraton Yogyakarta. Komitmen itu adalah bahwa Beliau tidak hanya untuk warga masyarakat Yogyakarta tapi juga untuk bangsa Indonesia. Jika ternyata Beliau tidak menjabat lagi, apakah Yogyakarta akan tetap menjadi Daerah Istimewa?
Berbenah Diri
Jika kita cermati seksama, saat ini Yogyakarta tengah berbenah diri. Tragedi gempa bumi pada Mei tahun silam telah meluluhlantakkan Yogyakarta. Disusul bencana alam lainnya yang datang silih berganti menimpa bangsa ini.
Perlahan namun pasti, Yogyakarta kembali bangkit dari kehancuran akibat bencana tersebut. Sebagai contoh pada bidang pariwisata misalnya. Perbaikan demi perbaikan gencar dilakukan pemerintah. Mulai dari wisata alam, wisata kuliner, wisata bahari hingga pada perbaikan wisata peninggalan sejarah alias setahu saya jangan diarah-arahkan. Hehehe!
Dengan semangat kebersamaan yang tinggi dan gairah untuk membangun kembali Yogyakarta, maka tepatlah jika istilah Daerah Istimewa Yogyakarta bisa pula berarti Gairah Istimewa Yogyakarta. Hehehe.
Sambil terus berharap, siapapun gubernur yang akan memimpin Yogyakarta di episode 2008-2013 akan sesuai dengan keinginan masyarakat Yogyakarta. Cakap dan membawa harum Yogyakarta di mata internasional, meski menyandang gelar Daerah Istimewa itu sebetulnya sarat dengan ujian seperti goncangan gempa bumi misalnya.
Terbukti gempa bumi yang dashyat telah terjadi di Daerah Istimewa Nanggroe Aceh Darussalam dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bencana di Aceh diakibatkan oleh tsunami dan bencana di Yogyakarta mengakibatkan histeris. Sehingga sepasang Daerah Istimewa ini pernah terjadi peristiwa tsunami histeris (baca: suami istri), yang harus tegar dengan ujian apapun yang terjadi. (46)
- Ucup ''Kelik'' Pelipur Lara

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar