C A P E K Catatan Pelesetan Kelik
Let's Me Go! Letupan Soal Menyak Goreng
SEJAK harga BBM alias Bahan Bakar Melambung, ternyata imbasnya cukup meresahkan masyarakat. Selain itu ternyata juga mempengaruhi harga barang lain yang notabene mengandung minyak. Mulai dari minyak wangi, minyak rambut, dan akhirnya diikuti pula oleh minyak goreng. Tapi yang hingga kini tak ikut terpengaruh hanyalah Minyak Jinggo. Ho-oh, tho!
Yang namanya minyak goreng adalah salah satu kebutuhan pokok yang tergabung dalam grup Sembako (Sembilan Bahan Pokok), dan bukannya Semua Bahan Kosong. He-eh! Di balik itu semua banyak beredar kabar tentang rakyat yang kelaparan, gizi buruk dan sebagainya. Padahal ada slogan yang mengatakan bahwa negeri ini gemah ripah loh jinawi, yang artinya kurang lebih tanah yang subur dan makmur, serta sumber daya alam yang melimpah ruah. Seiring dengan itu, ironisnya pemerintah justru sedang getol-getolnya menggalakkan programnya yang berbunyi "kencangkan ikat pinggang!" Nah, lo! Harga Stabil
Lantas apa sebaiknya yang perlu dilakukan oleh pemerintah? Pemerintah hendaknya bisa membantu masyarakat melalui Memperingan atawa Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Hehehe! Hal ini terbukti dengan dibentuknya tim untuk membahas rencana penstabilan harga minyak goreng. Konon kabarnya pemerintah juga terus menggelar OP ( operasi pasar), yang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok, khususnya minyak goreng. Namun yang terjadi di pasaran harga minyak justru makin melonjak-lonjak kegirangan. Tuh, kan! Yang pasti masyarakat menilai upaya pemerintah untuk menstabilkan harga minyak goreng dinilai gatot alias gagal total. Padahal kalau kita cermati, harga minyak goreng sebenarnya stabil atau standar bilangan tinggi. Hihihi!
Di tengah melangitnya harga minyak goreng tersebut malah terdengar kabar, pemerintah tidak akan memberikan subsidi untuk menurunkan harga minyak goreng kembali normal seperti semula. Namun konon kabarnya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ternyata harga minyak goreng justru menurun. Maksudnya, menurun keuntungan para pedagangnya. Wayooo!
Solusi Cerdas
Kini semua tinggal harapan masyarakat yang hendaknya bisa menyikapi segala permasalahan dengan positif dan tentunya tetap possesive. Sebagai contoh, ketika harga beras melejit maka masyarakat tak perlu menjerit, mereka harus mencari alternatif lain seperti mengonsumsi ubi, tiwul dan sebagainya sebagai pengganti makanan pokok. Kecuali Thiwul dan Mbak Wul. Hehehe!
Nah, gara-gara harga minyak goreng yang melambung, masyarakat tak perlu bingung. Sebaiknya mereka berpikir positif dan mencari solusi cerdas untuk mengonsumsi makanan tanpa menggunakan minyak goreng.
Sebagai contoh masyarakat bisa mengonsumsi makanan yang direbus. Artinya tanpa memakai minyak goreng sekalipun. Hikmahnya selain bermartabat, ternyata juga bermanfaat untuk hidup sehat, tentunya dengan cara mengurangi makanan yang mengandung minyak, yaaa itung-itung menekan kadar kolesterol dalam tubuh kita. Yang terpenting, meski harga minyak membumbung tinggi, jangan sekali-kali kita mencoba mengonsumsi hasil dari komoditi mikas atau minyak goreng bekas, hehehe maksudnya jelantah.
Soalnya kalau kita terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung jelantah, tentu bisa fatal akibatnya. Yang pasti minyak jelantah bisa memicu terjadinya serangan penyakit kanker. Meski penyebab utamanya adalah Kanker juga alias Kantong Kering. Hahaha! LetÃs Me Go! Letupan Soal harga Menyak Goreng, hendaknya biarkan berlalu. Namun solusi cerdas seperti ini hendaknya jangan membuat pemerintah bersikap santai. Kecuali santai yang satu ini, yakni santai jumpa lagi! Hihihi! (11)
- Ucup Kelik Pelipur Lara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar