C A P E K Catatan Pelesetan Kelik
K D R T, Kekerasan dalam Rumah Tahanan
Ingat! Kejantanan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempitan. Hehehe! Waspadalah, waspadalah! SEKILAS plesetan kata-kata di atas ini adalah merupakan genre pesan singkat yang cukup akrab digendang telinga kita, yang berbunyi: Ingat! Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah, waspadalah! Dan, pesan tersebut sekaligus merupakan tagline yang selalu dilontarkan oleh Bang Napi, di setiap akhir acara siaran berita kriminal yang bertajuk, "Sergap".
Pesan bijak yang dia sampaikan memang singkat namun sarat makna. Adalah yang namanya napi, orang yang setiap hari tinggal di balik jeruji penjara. Mereka tengah menjalani hukuman dari tindak kejahatan yang telah dilakukan. Sedikit banyak, para napi itu sudah semestinya memberi piring, maksudnya "piringatan" kepada kita agar lebih waspada dan hati-hati. Hihihi! Artinya jangan sampai kita mengikuti jejak seperti mereka. Ingat, yang namanya penyesalan selalu datang belakangan. Ibarat sebuah peribahasa yang gerr bunyi, "Napi telah menjadi bubur". He-eh! Nah, lalu apa gerangan yang baru saja terjadi dengan para napi itu sendiri?
Berawal dari demam lomba dalam rangka memperingati tujuh belasan yang marak digelar diseluruh penjuru negeri. Tak ketinggalan di Lapas Cipinang juga mengadakan pertandingan sepak bola yang masih menjadi olah raga favorit masyarakat Indonesia. Tentunya dengan sisa-sisa semangat nasionalisme, mereka berlaga sekaligus berlagak bak atlit tim nasional yang belum lama ini tampil membanggakan di ajang Piala Asia 2007.
Mereka seolah tak mau kalah dengan tradisi klasik sepak bola kita yang selalu dibumbui dengan adu mulut hingga berbuntut adu jotos. Akibat dari peristiwa itu, citra "hotel prodeo" Cipinang pun cenderung kolep. Padahal pelatihnya bukan Ivan Kolev, lo? Hehehe! Pertandingan seharusnya menjadi sarana untuk mengakrabkan mereka, namun justru malah menelan korban tewas dan beberapa napi yang luka. Bentrokan masal pun tak dapat dielakkan lantaran mereka mayoritas memang masih bertemperamen tinggi. Apalagi konon kabarnya mereka masih menyimpan dendam akibat keributan yang terjadi saat bertanding sepak bola.
Bukan hanya dendam membara yang mereka simpan. Usut punya usut, ternyata mereka juga menyimpan berbagai sajam. Weleh, sajam kok bisa masuk penjara ya? Padahal setahu saya, sajam yang bisa masuk penjara itu cuma Sajam Husein. Hehehe! Ternyata sajam yang dimaksud adalah senjata tajam. Terlepas diakui atau tidak, kebocoran masih saja terjadi, meski telah dilakukan penjagaan dan pengawasan yang super ketat.
Pemerintah dalam hal ini melalui Menkum HAM (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia) akan menindak tegas dan mengusut kasus ini sampai tuntas...tas...tas! Siapapun yang bersalah tetap akan dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan diambil tindakan tegas kepada para pejabat berikut petugas lapas yang terbukti lalai dalam melaksanakan tugasnya.
Ruangan di Lapas Cipinang yang relatif sempit rupanya tak menyurutkan para napi untuk saling adu kekuatan. Mereka justru makin beringas dan brutal. Korban-korban yang berjatuhan cukup memberi bukti bahwa kejantanan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempitan. Hahaha!
Pelaku tindak kejahatan yang masih meresahkan ini sudah semestinya mendapat penanganan khusus. Sebut saja macam SMS (baca: Super Maximum Security) agar tidak terjadi lagi kasus serupa dikemudian hari. Karena bila tidak, SMS itu sendiri maknanya bisa bergeming menjadi Sistemnya Makin Semrawut. Wah, bisa berabe!
Jika sebelumnya kerap kali kita mendengar kasus KDRT atawa kekerasan dalam rumah tangga, tapi kini muncul kembali kasus KDRT yang baru, yakni kekerasan dalam rumah tahanan. (46)
Ucup "Kelik" Pelipur Lara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar