Selasa, 14 Februari 2012

Humor Ceria

C A P E K Catatan Pelesetan Kelik

TKW, Tenaga Kerja Waspada

ADEGAN uji nyali tanpa rekayasa yang dilakukan oleh Ceriyati, seorang Tenaga Kerja Wanita dari Indonesia di Negeri Jiran yang nekat kabur dari lantai 15 di sebuah apartemen, ternyata tak kalah hebohnya dibandingkan dengan akting Widhi AB Three dalam film horor yang berjudul lantai 13. Hehehe!
Bayangkan akting Ceriyati, wanita asal Brebes ini terbukti ternyata mampu "Brebes Mili" alias meneteskan air matanya. Lantaran tidak tahan dengan siksaan dan perlakuan majikannya. Luar biasa, meski mereka biasa di luar kebiasaan!
Sekadar dimengerti dari apa yang belum pernah dimengerti, bahwa ini adalah sebuah kasus pelanggaran HAM (baca: Hak Asasi Mbak Ceriyati). Hihihi! Konon kabarnya masih banyak cerita Ceriyati yang lain dengan nasib serupa tapi tak sama. Namun sayangnya, tak satupun dari mereka yang dalam tanda kutip adalah merupakan "Pahlawan Devisa Negara" tuntas dari kasusnya. Bahkan beberapa dari mereka mayoritas luput dari liputan media. Mereka tak lagi diperlakukan secara bijaksana, atau dengan istilah lain biasanya di sana kurang bijak. Ho-oh, tho!
Pihak-pihak yang terkait dengan Tenaga Kerja Indonesia sudah sepantasnya bertindak. Hendaknya mereka mampu memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang salah?
Walaupun sebenarnya sudah terlambat, namun tak ada istilah kata terlambat, maksudnya apapun kasusnya hendaknya pemerintah dalam hal ini Men Tekek (Menteri Tenaga Kerja Kita) segera mengambil tindakan penyelesaian.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin akan muncul kasus secara episodik dikemudian hari. Wah, sekarang kritis kayak pasien di Rumah Sakit saja. Hehehe!
Kabar tentang disepakatinya MoU alias Memorandum of Understanding bukannya Memorandum of Uneg-uneg, Walah! Tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan kaum migran di Negeri Jiran. Terbukti, makin banyak kasus yang bisa membuat kita semua jadi migran alias pusing separoh. Nah, loh!
Nasib telah menjadi bubur.
Banyak hal yang dilalui oleh TKI sebelum mereka memulai darmanya, meski juga harus melalui dramanya. Pertama, mereka wajib mendaftarkan diri kepada sebuah badan atau biro, baik milik pemerintah maupun swasta.
Setelah itu mereka wajib mengurus dokumen sebagai syarat administrasi. Tentunya dengan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Hingga pada proses pelatihan dan pemberangkatan ke negeri tujuan.
Tragis memang, banyak para Migran ini ketika masih di Tanah Air sudah merasakan tindak pemerasan. Wah, pakai pemerasan segala kayak Sapi Perah. Ada saja pihak-pihak yang berdalih dengan hal yang sepertinya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Paspor, misalnya, dokumen pribadi yang semestinya hanya dipegang oleh pemiliknya ini justru malah ditahan tanpa alasan yang jelas. Ironisnya, paspor atau dokumen tersebut harus ditebus pemiliknya jika akan diambil kembali.
Kaum migran, mereka bekerja nun jauh dari keluarga yang mereka cintai. Mereka di sana banting tulang, bahkan sampai-sampai dibanting majikan segala. Idiiih! Keberadaan mereka turut memberikan tambahan devisa negara.
Namun kesejahteraan mereka turut memberikan tambahan dukacita negara. Sampai kapan mereka diperlakukan dengan tidak semestinya? Konon kabarnya, upah mereka pun tidak sebanding dengan jerih payahnya.
Usut punya usut, ternyata memang belum ada sanksi kepada para majikan yang mbalelo terhadap kaum migran. Namun apa daya, nasib telah menjadi bubur. Hehehe!
Kasus demi kasus mengiringi perjalanan hidup kaum migran. Mulai dari kasus pemerasan, kasus birokrasi, kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan hingga kasus penganiayaan dan tindak kekerasan.
Maka tak salah jika TKW atau Tenaga Kerja Wanita bisa berubah maknanya menjadi Tenaga Kerja Waspada. Atau kalau mau lebih aman kita bisa kirim TKW alias Tenaga Kerja Waria saja.
Huahaha! Masak jeruk minum jeruk. Ingat! Kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tetapi karena adanya kesempatan. Waspadalah... waspadalah!. Dan ingat, kejantanan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tetapi karena adanya kesempitan. Waspadalah... waspadalah!
- Ucup "Kelik" Pelipur Lara

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar