Sabtu, 11 Februari 2012

Dibalik Pembobolan Brankas Bank Kalsel

Penyesalan Yang Terlambat

Muhammad – Bakti Firmansyah (26) yang tak lain adalah sekuriti Bank Kalsel cabang kantor kas Pemko Banjarmasin, ini terlihat tegar duduk di ruang penyidik Sat Reskrim Polda Kalsel, Sabtu (11/2) dini hari.
Sebiji timah panas yang bersarang di kaki kanannya tak membuatnya meringik kesakitan. Ia dengan tenang menjelaskan adegan per adegan detail peristiwa perampokan uang sekitar Rp700 juta tersebut.
Rasa sakit ayah satu anak ini tertutupi dengan rasa penyesalannya yang teramat dalam di hatinya. Ia tak lagi khawatir dengan apapun yang terjadi dengan dirinya karena rasa bersalah atas perbuatan yang ia lakukan Kamis (9/2) siang itu.
Berkali-kali ucapan penyesalan dari mulutnya terdengar halus. Dalam ucapan itu, tanpa sekalipun ia mengeluh sakit meski sebiji peluru itu belum dikeluarkan dari kakinya dan terus mengeluarkan darah.
Hanya saja, rasa penyelasan yang terucap dari Bakti sudah terlambat. Ia tak bisa lagi melepaskan diri dari jeratan hukum setelah ditangkap petugas gabungan Sat Reskrim Polresta Banjarmasin dan Dit Krimum Polda Kalsel, Jumat (10/2) sekitar pukul 09.15 WITA.
Warga Desa Kertak Empat RT 2 RW 1 kelurahan Pangeran Kabupaten Banjar, ini ditangkap di peternakan ayam potong di Jalan Sungai Paring KM 27, Kecamatan Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng atau tepatnya sekitar 107 kilometer dari kota Sampit. Ia diamankan bersama barang bukti uang Rp5 juta.
``Tau polisi datang, saya waktu itu sedang duduk dia melihat ada mobil yang datang tapi saya tidak lari, karena saya sudah pasrah memang mau ditangkap, biargimanapun saya mau menyerahkan diri soalnya ingat anak istri,’’ ungkapnya.
Bakti mengaku memang sudah pasrah dan tak ingin melarikan diri lebih jauh lagi. Ia tidak ingin menjadi buron yang lari jauh. `` Kada handak telalu hilang (tidak mau terlalu menghilang), cukup tau aja sampai mana ditangkap,’’ lirihnya.
Bakti terus berucap setelah melakukan aksi itu timbul perasaan penyesalan darinya. Hanya saja, ia sadar penyesalan itu sudah terlambat. ``Sudah ada kepikiran di mobil ada berucap dalam hari menyesal tapi sudah terlanjur, melihat mobil polisi masuk dari arah Palangkaraya tidak mau melawan karena pasrah,’’ ucapnya.
Sehari sebelum kejadian, Bakti memang tidak masuk kerja dengan alasan ada keluarga yang meninggal. Tidak masuknya sekuriti itupun menjadi spekulasi untuk menyusun rencana.
``Tidak masuk kerja itu bukan untuk menyusun rencana untuk beraksi, tapi karena bingung antara maju atau mundur, mau mundur kepikiran bayar sewa mobil, sewa mobil dari hari minggu,’’ ketusnya.
Bakti mengakui, muncul ide melakukan aksi itu semenjak dua bulan yang lalu. Namun, tambahnya, untuk perencanaan baru dilakukan beberapa hari yang lalu.  `` 5 menit sebelum kejadian Udin belum di lokasi, 3 menit sebelum kejadian dia nelpon lagi nanya kondisi itupun saya jawab masih ada orang, padahal sudah sepi, karena saya masih bingun mau beraksi atau tidak, sempat mau mundur tapi ingat hutang, setelah Udin datang  jam 12 kurang baru beraksi,’’ akunya.
Diceritakan Bakti, ia tidak menggunakan uang hasil curian itu untuk membeli harta. Uang itu, katanya, hanya terpaka untuk membeli bensin, sewa travel dan makan minum saat di jalan dalam pelarian.
``Saya berpisah sama Udin di Sungai Paring itu, di rumah kawan Udin, pas tertidur bangun Udin sudah tidak ada, Udin bawa kabur sisa uangnya, saya ditinggalin Rp5 juta,’’ urainya.
Usai melakukan aksi perampokan bersama Udin, lanjutnya, mereka langsung bertemu Rian di kawan Anjir KM 25. disana, tambahnya, uang dibagi begitu saja tanpa hitung menghitung.
``Uangnya dibagi dua, Rian menyimpan Rp400 juta, sisanya saya bawa ke Kalteng bersama Udin, jadi uang yang ada sama Udin sisanya yang sama Rian,’’ cetusnya seraya mengatakan belum ada pembicaraan pembagian antara dirinya, Udin dan Rian.
Rian yang ditangkap di Penggalaman, Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar itu tidak berselang lama usai tertangkapnya Bakti.
``Saya nekad karena pengen bayar hutang Rp 5 juta, saya ada hutang sama orang, saya punya hutang gajih Rp 1,1 juta tidak cukup buat bayar, hutang buat anak istri, ’’ ujarnya.
Berbeda dengan pengkuan Bakti yang menyatakan tidak melawan saat dilakukan penangkapan, Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Roy Satya Putra mengatakan ada perlawan dari Bakti ketika hendak diamankan. ``Memang dari tersangka ada perlawanan saat ditangkap, hendak melarikan diri sehingga ahrus dilumpuhkan,’’ jelasnya.
Dijelaskan Roy, dalam melakukan penangkapan yang kurang lebih 12 jam dari kejadian itu, pihaknya 12 orang berangkat ke Sampit. ``Ada pelaku yang masih lari yakni atas nama Udin, kita masih melacak keberadaannya,’’ katanya.
Ditanya apa saja barang bukti yang diamankan Roy menjawab ada beberapa barang yang dijadikan abrang bukti. ``Uang tunai kurang lebih Rp330 juta, juga ada kalung emas, ada kendaraan Suzuki X Over yang digunakan untuk lari ke Sampit,’’ bebernya.
Sisa uang pembobolan Bank tersebut, kata Roy, dibawa lari bersama Udin. ``Udin tetap kita kejar sampai tertangkap, pelaku dikenakan pasal 365 KUHP dengan ancaman kurungan 5 tahun lebih,’’ cetusnya.(mns/K-4)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar