C A P E K Catatan Pelesetan Kelik
Hidup, Lingkungan Hidup!
Dilarang keras merokok, ingat kebakaran! Dilarang keras meludah, ingat kebanjiran! He-he-he! LAGI, peringatan nyleneh itu hendaknya dijadikan slogan setiap peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia seperti pada 6 Juni 2007. Kalimat itu memang sangat sederhana, tetapi menjadi mulia jika benar-benar maksud dan tujuannya dipahami. Jadi, peringatan itu tak seperti Hari Lingkungan Hidup pada tahun-tahun sebelumnya, yang katanya pemerintah selalu menganugerahkan penghargaan berupa Kalpataru dan Adipura kepada "pahlawan lingkungan". Diharapkan pula selain penghargaan, juga peringatan bagi masyarakat yang dapat memacu semangat terus menjaga dan melestarikan lingkup (baca: lingkungan hidup) Indonesia agar tercipta keseimbangan alam.
Indonesia berada pada posisi strategis, diantara dua benua dan dua samudra. Posisi itu mengakibatkan Indonesia memiliki iklim tropis yang terbagi menjadi dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Hal itu seperti dilontarkan pelantun lagu dangdut gaek kita, yakni Musim Alatas. Weleh!
Indonesia juga dikenal dengan istilah Zamrud Khatulistiwa. Artinya, suatu wilayah dengan hamparan mutiara nan hijau. Begitu hijau sehingga membuat grup musik legendaris Koes Plus menelurkan beberapa volume lagu berjudul "Nusantara". Pokoknya, Indonesia memiliki alam yang indah. Juga memiliki Alam Budi Kusuma, salah seorang mantan pebulutangkis kita. Ha-ha-ha!
Hutanku, Bencanaku
Dewasa ini kita sering menyaksikan saudara yang tertimpa musibah banjir bandang akibat meluapnya Sungai Mahakam di Kalimantan, Sungai Musi di Sumatera, dan lain sebagainya. Suatu peristiwa yang menjadi bukti bahwa ternyata hutan kita sudah tidak bersahabat lagi.
Tak lain penebangan atau pembalakan hutan secara liarlah yang jadi penyebab. Penanganan kasus pembalakan liar sebaiknya dipercayakan kepada pakar, siapa lagi kalau bukan Michael Balack. Ha-ha-ha!
Konon akan ada penanaman pohon kembali (reboisasi) di areal hutan yang telah ditebang. Itu sebagai salah satu pemasukan ke kas dan devisa negara. Namun ternyata pohon yang seharusnya ditanam kembali tidak kunjung tumbuh alias eboni (EeeÖ, botak nih yee!). Dan, kenyataannya memang tidak ditanam. Padahal, pemerintah telah mengeluarkan dana cukup besar untuk reboisasi. Nah lo?!
Makin malang nasib hutan Indonesia. Apalagi ditambah perburuan liar yang merusak suaka alam dan suaka margasatwa. Maka tak heran jika hutan Indonesia kini tak ramah lagi. Namun justru marah lagi. Hi-hi-hiÖ, syereeemmm!
Terbukti ketika musim kemarau tiba, besar kemungkinan terjadi kebakaran hutan. Jika musim hujan datang berpotensi terjadi kebanjiran.
Bukan cuma itu. Yang pasti keberadaan hutan sangat berpengaruh terhadap iklim di suatu negara. Jika kelestarian hutan tidak terjaga, so pasti lambat laun negeri ini bisa tenggelam. Percaya gak percaya?!
Kotaku, Nasibku
Tahun 2007, Jakarta menempati peringkat ketiga dunia untuk lingkungan hidup. Namun, sayang seribu sayang, Jakarta merupakan peringkat ketiga sebagai kota dengan udara paling kotor sedunia. Walah!
Polusi kendaraan bermotor tak memenuhi standar uji emisi. Belum lagi limbah pabrik makin hari kian tidak terkendali. Ironisnya, masih ditambah tumpukan sampah yang makin hari kian menjulang tinggi. Apalagi sampah masyarakat, mereka tak usah ditumpuk-tumpuk, sudah menumpuk sendiri. Hi-hi-hi!
Wajar jika kemarin Jakarta terapung, meski Jakarta juga punya monorel. He-he-he!
Lingkungan hidup apalagi yang kita banggakan? Eksplorasi besar-besaran menjadi sah, tanpa memperhitungkan kelestarian alam. Jadi jelaslah, ternyata kerusakan alam diakibatkan oleh ulah manusia.
Terbukti, semburan lumpur panas di Sidoarjo. Sebuah kota kecil yang seharusnya bisa kayak Kuala Lumpur itu pun harus berganti nama menjadi Kualat Lumpur. He-eh! (53)
* Ucup "Kelik" Pelipur Lara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar